Catatan Free Latihan

Hari Guru dan Kenangan Tersisa




Senin, 04 Desember 2017
Dulu... Saat masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar), tasnya plastik, restliting celana hanya menggunakan kait peniti, pakai sendal dengan lumpur tebal yang membuat lantai semakin berwarna. Teman-teman bahkan tak pakai sepatu. Baju yang robek, baju yang basah, baju yang jorok. Bau badan karena tak mandi, bau rambut tak pernah bershampoo, bau anyir lendir yang keluar dari telinga, luka bernanah yang terus dikerumuni lalat. Titak ada yang protes. Sebab kami tiada berbeda. 

Saya menggunakan Bahasa Indonesia, teman menggunakan Bahasa Aceh dan Bahasa Jawa. Di sekolah, saat kelas I, seolah-olah kami diajarkan bahasa isyarat. Guru kami hebat, mengajar di depan kelas menggunakan 3 (tiga) bahasa sekaligus. Tidak ada yang protes. Sebab kami tiada berbeda. 

Guru pun tidak tersiksa atas perbedaan itu. Baik status, bahasa maupun kondisi "jorok" para muridnya. Bahkan tak pernah protes, baik pada kami maupun orangtua kami.

Akan tetapi, guru kami sangat "kejam". Apalagi ketika duduk di kelas III hingga kelas VI.  Jeweran menjadi dan telapak tangan. Ada yang berdarah, ada yang menangis, ada yang demam, ada juga yang ketakutan sampai tak masuk sekolah.

Tak  satupun orangtua kami yang marah. Tak ada caci maki apalagi melaporkan guru pada pihak berwajib. Namun sebaliknya, orangtua kami seolah-olah "bahagia" saat guru memarahi atau memukul. Jika kami takut ke sekolah justru orangtua memaksa kami untuk ke sekolah. Tak berani juga, maka kami akan diantar orangtua dengan bawaan se-keranjang sayur mayur. Buah tangan itu untuk guru. Bukan berarti itu sogokan, sebab, esoknya kami tetap dijewer dan harus berdiri satu kaki di depan papan tulis.

Anehnya, saya dan teman-teman termasuk guru kami, seolah-olah tidak pernah terjadi "kekerasan". Setiap jam istirahat kami kami jalani dengan gembira, bermain dan tertawa bebas, padahal lima menit sebelumnya ada "drama berdarah" di dalam kelas.

Saat Agustus, sekolah kami ikut karnaval di kecamatan. Kami para murid tidak pernah dibebankan. Para guru hanya menyuruh kami membawa kain, cangkul kecil, topi sawah, bawa sanggul, selendang, kebaya, sayur mayur, padi dan bahkan Quran.

Lalu, sejak pagi hari, para guru berjibaku mendandani semua murid perempuan. Dari bedak, lipstik, sanggul, semua di "olah". Menjelang Zuhur semuanya selesai. Kami pun di foto lalu di boyong seperti ternak menaiki truk Fuso.

Dandanan menor, sanggul yang miring, kebaya yang kebesaran, padi yang bertumpuk di bakul, adalah maha karya para guru yang memang tidak pandai merias. (Lha, ngajar saja mereka tak berhias. Bisa dilihat dari bedak tebal tak teratur. Tidak semua menggunakan Gincu/lipstip. Ada juga yang pakai tapi bukannya menambah cantik, para guru justru terlihat seperti memakan sirih).

Kami para murid bahagia. Tak ada tawa melecehkan, tak ada hinaan. Setiap kami saling memuji penampilan teman-teman yang menor tersebut. Begitu juga guru yang terlihat bahagia dan bangga.
Walau tak menang, tapi guru-guru telah berhasil membawa kami melihat dunia "luar".

Guru kami pahlawan yang sesungguhnya. Hal ini kami rasakan saat melihat tangan mereka membersihkan kotoran teman kami di ruang kelas, mengepel kencing yang membasahi lantai dan bangku. Menggendong kami saat terjatuh. Semua dilakukan dengan senyuman. 

Mereka bekerja tanpa pamrih. Walau gaji saat itu, golongan guru adalah paling rendah di pemerintahan. Tak ada dana boss, tak ada sertifikasi, tak ada insentif dan tunjangan ini itu, tidak ada jam mengajar (harus hadir setiap hari). Namun tiada protes dan demo. Mereka tetap sabar menjalaninya dan tetap sabar saat menghadapi kami.

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved