Catatan Free Latihan

Jangan Beri Kami Uang




Sunday, 13 September 2015

Saya, beberapa kali sempat mendengar kata-kata ini: “Jangan Beri Kami Uang”. Terus terang, kata-kata itu sangat jarang dan langka saya dengar. Bahkan, banyak mahasiswa tidak terkecuali masyarakat, setiap mengikuti pelatihan-pelatihan tertentu, tujuan utama bukanlah bagaimana bisa menerapkan ‘isi’ dari pelatihan, melainkan bagaimana mendapatkan uang saku saat pelatihan. Jadi, ada banyak mahasiswa dan pemuda mengaku, ikut pelatihan salah satu “job” sampingan untuk mendapatkan uang cash.

Faktanya memang demikian. Miris, tapi kita nyaris tidak bisa berbuat apa-apa. Karena, mereka merupakan bagian dari masyarakat yang terbentuk secara alamiah dari sikap manusia-manusia di sekelilingnnya. Ketidakadilan, ketidakjujuran, tatanan sosial yang rusak, semuanya menjadi tontonan harian dan akhirnya mereka pun berusaha melakukan hal yang sama dengan cara yang berbeda. Sesuai level dan tingkat pendidikannya.

Kembali ke judul “Jangan Beri Kami Uang”. Sejujurnya, masih banyak masyarakat khususnya generasi muda yang berpegang teguh pada prinsip ini walau pada kenyataannya nyaris mereka tidak mendapatkan apa-apa. Karena, memang, tidak ada yang peduli atas keinginan mereka.

Di Indonesia, khususnya Aceh, ribuan pelatihan, mulai dari pelatihan menulis (jusnalistik, sastra, dan lain-lain), blog, photography, desain grafis serta pelatihan-pelatihan sejenis, nyaris, semuanya berakhir di halaman surat kabar. Selebihnya hilang entah kemana. Pemateri kembali pada rutinitasnya setelah mendapat honorium pelatihan, para peserta pelatihan juga kembali pada rutinitas awal. Jadi, kemana semua pelatihan-pelatihan di bawa? Untuk siapa dan untuk apa? Apakah hanya untuk publisitas semata?

Berapa ribu generasi muda yang memiliki potensi, berapa ribu dari mereka telah mengikuti pelatihan? pertanyaan kita, kemana mereka semua? Jawabannya, semua kembali pada rutinitas masing-masing, di kebun, bangku sekolah hingga hanya duduk-duduk saja di pos jaga. Mereka seperti “dipaksa” untuk menjadi orang lain. Harus sukses dalam versi kebanyakan masyarakat saat ini. Yaitu, seseorang dikatakan sukses bila dapat dilihat langsung oleh jumlah dan bentuk materi. Mobil mewah, rumah bertingkat, dan lain-lain.

Padahal, sebagaimana pengalaman yang saya lihat langsung di lapangan, banyak generasi muda yang benar-benar serius untuk membangun masa depan melalui potensi mereka, membuka lapangan kerja dan memperbaiki ekonomi –bukan hanya ekonomi keluarga, teman-teman, melainkan juga mengangkat ekonomi masyarakat–.

Paling memprihatinkan, sebagian besar masyarakat dan generasi muda yang mengatakan “Jangan Beri Kami Uang” berasal dari keluarga kurang mampu –jika tidak mau dikatakan miskin–. Bahkan, ada juga, orangtua yang berbekal pendidikan minim, berusaha mencari tempat agar anaknya bisa berkreativitas dan dapat menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Lagi-lagi, sebagian besar lembaga, komunitas, hanya hidup seumur jagung. Hadir sesuai kepentingan dan kebutuhan “orang-orang kuat” dibelakangnya. Setelai itu hilang bak di telan bumi.

Lalu apa maksud dari “Jangan Beri Kami Uang” yang mereka ucapkan?

Beberapa generasi muda, baik mahasiswa, pengangguran maupun orangtua, berharap, ada sebuah pemberdayaan yang bersifat berkelanjutan. Bukan hanya sebatas “pertemuan” untuk publisitas dan bagi-bagi uang. Tapi, benar-benar pemberdayaan yang memiliki arah dan tujuan sehingga mereka lebih “terjamin” mengasah potensi. Agar benar-benar “jadi” dan bisa menjadi penopang hidup dikala sempitnya lapangan kerja sebagaimana yang terjadi saat ini.

Selama ini, kita hanya sering memberi saran dan solusi di bibir –yang sebagian besar belum pernah dilakukan– kepada generasi di negeri ini. Lalu berkata: “Jangan takut, kami ada dibelakang kalian”.
Kita, nyaris tidak pernah dan tidak berani menggandeng tangan mereka untuk melangkah bersama dan berkata : “Mari, kita jalani bersama. Senang dan susah akan kita lalui hingga kita berhasil!”.

Parahnya, yang terjadi selama ini, ribuan lembaga vakum tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada uang. Seolah-olah “Ada uang ada kegiatan. Tak ada uang bubar”. Hal ini menunjukkan, sebagian besar lembaga di negeri ini, Indonesia, tidak memiliki kredibilitas. Karena, jangankan membantu memperbaiki kehidupan masyarakat sebagai tujuan awal dibentuk, untuk kehidupan lembaganya sendiri pun tidak bisa. Jadi tidak mengherankan, semuanya menganggap uang adalah solusi.

“Jangan beri kami uang. Tapi berilah kami ilmu dan jangan biarkan kami seperti anak ayam yang kehilangan induk”. Kata-kata ini benar-benar menjadi gambaran apa yang dibutuhkan sebagian besar generasi muda saat ini. Generasi Indonesia dalam keadaan “gamang” tanpa arah. Mereka dipaksa menjadi “orang lain” agar menjadi sukses dalam kacamata materi. Akhirnya, lapangan kerja, tidak pernah mampu diselesaikan walau negara ini sellau berganti pemimpin.

Generasi bangsa ini butuh pedamping dan bimbingan yang bisa menjaga mereka hingga menuju pintu kesuksesan sesuai potensi mereka masing-masing. Bukan pelatihan yang hanya sesaat dan berakhir di halaman surat kabar. Mereka butuh pemberdayaan yang berkelanjutan untuk mengasah semua potensi. Jadi tak salah apa yang mereka minta. “Jangan Beri Kami Uang”.

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved