Catatan Free Latihan

Terburu-buru Berujung Sengsara




Saturday, 14 June 2014
 
proses berdiri tegak
Seorang anak juga membutuhkan proses (waktu) untuk bisa berdiri tegak.
Proses dalam hidup merupakan sebuah jenjang atau tingkatan. Sesuai usia, kemampuan dan pemahaman juga berbeda-beda. Namun, banyak dari kita tidak siap melalui proses tapi ingin serba instan. Hari ini latihan langsung berharap esoknya menjadi pakar. Bagaimana mungkin?

Lihat saja proses yang harus dijalani seorang bayi. Ia harus sabar melalui proses merangkak. Walau terkadang kesal karena benda yang hendak diambil terlalu jauh, namun dia tetap bersabar dan semangat merangkak.

Melewati batas merangkat bayi pun mulai bertatih hingga berjalan. Saat proses berjalan inilah, kadangkala seorang bayi sangat senang melihat kakak-kakaknya yang berlari. Ia pun memaksakan diri berlari sekencang-kencangnya. Bukannya semakin kencang, justru sang bayi terjatuh dan menangis karena kesakitan. Sudah demikian, bahkan dimarahi oleh ibunya bahkan tidak jarang dicubit. Penderitaan semakin bertambah karena kaki berdarah dan harus diobati.

Setelah lancar berlari sedikit, lagi-lagi, bayi yang sudah batita inipun bernafsu saat melihat kakak-kakaknya mampu naik sepeda. Ia pun berhasrat bahkan menjerit-jerit minta naik sepeda. Naiknya pun harus di depan dan harus memegang kemudi (stang sepeda). Sang kakak yang belum mahir pun oleng, lagi-lagi keduanya jatuh terjerambab. Gara-gara sang adik, kakak pun di cubit oleh ibunya dan tidak boleh membawa adik naik sepeda. Si adik pun tidak boleh naik sepeda bersama kakak lagi.

Semua kita punya hasrat dan keinginan. Perbedaannya, anak kecil belumlah memiliki pemikiran sebagaimana orang dewasa. Sayangnya, orang dewasa sering tidak mau belajar pada proses. Semua memaksakan ego seolah-olah harus jadi tanpa melaui proses.

Bahkan, saat makan pun kita dilarang terburu-buru. Bukankah buru-buru itu merupakan perbuatan syaitan?

Banyak pelajar, mahasiswa maupun khalayak umum, setelah sehari belajar menulis, berharap esok hari tulisannya masuk media surat kabar dan langsung menjadi penulis atau wartawan. Ini namanya mimpi. Anak kecil saja tidak bisa langsung berlari tanpa melewati beberapa tahap (mulai dari merangkak).

Dan jika pun memaksakan diri, bisa saja, namun, ketika terjatuh saat proses, sungguh sangat menyakitkan. Masalahnya, banyak orang tidak siap untuk jatuh. Apalagi, tidak sedikit dari “jatuh” ini yang memaksa kita memutuskan untuk berhenti “berjalan”.

Contohnya:

Seorang yang hendak mencapai lantai 12 dari sebuah gedung. Bukankah kita harus melewatinya dari lantai satu terlebih dahulu? Tapi banyak orang ingin serba instan. Ia ingin melewati lantai 1 dan langsung menuju lantai 2. Caranya dengan meloncat dari dinding menuju lantai tiga. Memang ada yang berhasil walau dengan kaki terkilir. Tapi banyak yang tidak berhasil dan berakhir dengan tragis. Karena ingin cepat, akhirnya jatuh. Bukannya sampai ke lantai dua, justru kita sampai ke rumah sakit karena pinggang patah. Memang selamat. Tapi hidup tak lagi sempurna. Jalan tidak lagi lurus dan seimbang karena nafsu instan. Sedangkan yang selamat tapi kaki terkilir, juga berobat untuk mengurut kaki dan terpaksa menunda waktu sampai ke lantai 12.

Nah bagaimana dengan orang-orang yang setia dengan proses? Dengan sabar walau lama, ia berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, lalu istirahat dan naik tangga lagi menuju lantai 3 hingga menyelesaikan proses menuju lantai 12.

Ia hanya merasakan lelah namun lelahnya itu dapat diisi kembali saat istirahat. Sedangkan yang terkilir dan patah pinggang, jika tetap kembali menaiki tangga, tetap akan tertinggal jauh dari orang-orang yang menaiki tangga secara normal. Walau proses terasa lambat tapi sampai dengan selamat.

Bahkan, kuliah untuk menjadi seorang sarjana, kita membutuhkan waktu yang panjang bertingkat-tingkat. Bukan hanya waktu, kita juga harus berkorban (biaya spp dan kebutuhan hidup saat kuliah) yang nilainya hingga ratusan juta rupiah. Dan kita juga harus belajar tidka boleh main-main. Semua harus dikerjakan dengan serius untuk bisa menjadi sarjana. Karena tidak ada sarjana yang benar diperoleh secara instan. Untuk apa sarjana tapi tong kosong? Untuk apa sarjana tapi ijazah bodong? Ingat, Tuhan itu Maha Adil. Semuanya ada proses….


Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved