Catatan Free Latihan

Dua Tahun Pemerintahan Zikir: Tetap Bekerja Sepenuh Hati




Sunday, 15 June 2014
pemimpian Aceh, Zikir
Dua Tahun Pemerintahan Zikir
Tidak terasa, dr. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf atau sering disebut Zikir, telah memimpin Aceh selama dua tahun. Dalam pandangan saya selaku blogger, Dua Tahun Pemerinatahn Zikir, merupakan usia yang masih terlalu muda. Jika diibaratkan seorang anak, keduanya masih dalam proses berjalan. 

Proses berjalan ini jelas belum dapat berlari kencang. Jadi, kita harus memaklumi, apapun yang terjadi di Aceh sekarang, inilah kerja keras Zikir dalam membangun Aceh, yaitu pemimpin yang telah kita pilih bersama pada 9 April 2012 silam. 

Fokus utama tetap kesejahteraan rakyat. Banyak hal mulai dibenahi. Berbagai “lubang” yang ditinggal pemerintah sebelumnya diperbaiki dan ditutup. Bukan perkara mudah.

Apalagi, beberapa bulan menjabat sebagai Pemimpin Aceh, Zikir masih sering diremehkan. Banyak pihak yang meragukan kemampuan mereka berdua, bahkan tidak sedikit pula yang menghina dan menghujat. Namun keduanya tetap terus berjalan dan bekerja sepenuh hati.

Sebagai manusia, tentu mereka kecewa ataupun sedih, tapi mereka sadar atas tanggung jawab yang diemban. Dan inilah salah satu resiko menjadi seorang pemimpin. Jadi, walaupun hinaan dan cacian selalu mereka dapat, bukan berarti Zikir berhenti. Mereka tetap memberi yang terbaik bagi masyarakat dan Aceh.

Hal ini dapat dilihat dari kegigihan Zikir mencari investor. Bahkan mereka harus "mengejar" investor tersebut hingga ke berbagai penjuru dunia. Walau lelah, namun tidak menyurutkan niat mereka untuk kemajuan Aceh. 

Paling menyakitkan. Terkadang mereka pulang dengan tangan hampa, tanpa ada investor yang bersedia menanamkan modalnya di Aceh. Sesampai di Aceh bukannya mendapat support, justru sebagian masyarakat dengan sengaja menyalahkan dan mengeluarkan kritikan pedas yang tidak membangun. Begitu juga sebaliknya, ketika ada investor yang berhasil digaet, tidak ada sanjungan, minimal ucapan terimakasih. 

Apalagi, seperti kita ketahui, menjaring investor untuk datang ke Aceh bukanlah semudah membalik telapak tangan. Aceh masih sering didengungkan segelintir orang yang tidak bertanggungjawab sebagai daerah konflik dan masih kurang aman bagi investasi. Padahal, pada kenyataannya tidak demikian. Oleh sebab itu, Pemerintahan Zikir berusaha memberi jaminan dan akan melindungi para investor yang bersedia menanamkan modal.

Gubernur Aceh, Dr Zaini Abdullah (Foto: acehimage.com)
Kegigihan Zikir pun dapat dilihat. Hasilnya, realisasi investasi oleh investor asing atau Penanaman Modal Asing (PMA) dan investor lokal atau Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Aceh pada tahun 2013 mencapai Rp 5.091 triliun.

Sedangkan untuk tahun 2014, sebagaimana data yang dirilis Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Republik Indonesia, Aceh menduduki peringkat keenam terbesar realisasi PMDN pada triwulan pertama 2014 yakni senilai Rp1,5 trilun.

Tiga sektor investasi yang menjadi unggulan di provinsi ujung paling barat Indonesia itu yakni  bidang pariwisata, infrastruktur dan energi. Ketiga sektor ini terus didongkrak. Gubernur Aceh sendiri menaruh perhatian yang besar terhadap investasi ini karena menyangkut kesejahteraan masyarakat.

Untuk bidang energi, khususnya Minyak dan Gas, banyak investor yang harus tertahan. Sebabnya, Pemerintah Provinsi Aceh masih menanti disahkannya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Migas. Melalui RPP ini, maka kewenangan pengelolaan migas di wilayah darat dan lepas pantai Aceh hingga 200 mil laut tidak lagi menjadi monopoli Pemerintah Pusat semata, tetapi akan dilakukan secara bersama-sama dengan Pemerintah Aceh.

Hal tersebut sesuai amanat Undang-undang (UU) Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA), Pasal 160 ayat (2) menyatakan:  “Untuk melakukan pengelolaan, pemerintah dan pemerintah Aceh dapat menujuk atau membentuk suatu badan pelaksana yang ditetapkan bersama.”

Satu sisi, Pemerintahan Zikir mengejar, namun satu sisi harus menahan. Sebuah kondisi dilematis tentunya. Tapi banyak pihak yang tidak mau melihat hal ini melainkan hanya menyalahkan.

Menjadi seorang pemimpin bukanlah perkara mudah. Sebagai blogger, saya yakin, Zikir memahami hal ini. Keikutsertaan mereka dalam kelompok Kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tidak lain sebuah gambaran bahwa mereka peduli dan ingin memberi yang terbaik bagi Aceh. 

Selama dua tahun memimpin Aceh, mereka telah berusaha sekuat tenaga, baik pikiran maupun waktu, untuk menunaikan segala janji mereka. Mereka bukan lupa dengan janji, namun, kenyataan di lapangan sungguh jauh berbeda. Keinginan mereka kerap mendapat pertentangan. Baik dari internal (Aceh) maupun eksternal (Pusat). Banyak orang hanya bisa menyalahkan Zikir tapi tanpa mau membantu.

Dua tahun, seperti awal tulisan di atas, adalah masa yang terlalu pendek untuk berharap semuanya serba sempurna. Dr Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf juga manusia biasa. Kita terlalu sering memaksa orang lain untuk sempurna, sedangkan diri kita sendiri tak mampu untuk menjadi manusia yang sempurna. 

Dua tahun, ibarat seorang anak yang masih belajar berjalan. Masih belum dapat berjalan dengan sempurna dan belum bisa berlari kencang. Apalagi jika berharap untuk mengendarai sepeda motor. Tentu sangat mustahil. Biarkan Aceh di bawah terus berbenah. Jadi, Dua Tahun Pemerintahan Zikir, tentu waktu yang masih dini untuk meminta lebih atas kerja mereka.



1 comments:

  1. Waaaaah semoga sukses bang, semakin berat aja nih kompetisinya :D

    ReplyDelete

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved