Catatan Free Latihan

Banyak Hal Telah Kita Lupakan




Monday, 16 June 2014
Sejauhmana kita sering mengingat seorang ibu saat kita senang?
Percaya atau tidak, sebagian besar dari kita terlalu asyik dalam dunianya sendiri. Jika tidak percaya, coba bertanya dalam hati, seberapa sering mengingat keluarga kita sendiri? 

Contohnya:

1. Lebih sering siapa yang kita kirim sms (bertanya kabar)? Orang tua atau pacar?

2. Seberapa sering kita makan enak di banding orang tua (khusus anak kost)

Untuk hal ini, saya berani jamin, kita lebih sering makan enak di banding orangtua kita sendiri di kampung. Setiap awal bulan, ketika datang uang bulanan, kita bisa membeli nasi goreng pakai lauk pauk yang mewah. Bisa minum jus seminggu dua kali, dan lain-lain. Berbeda dengan orang tua, ketika hendak makan enak, ia sering rela menggagalkannya karena mengingat anaknya yang sedang kuliah. Padahal mereka juga kepingin makan enak.

3. Seberapa sering kita mentraktir teman-teman atau pacar dibanding dengan orangtua atau keluarga sendiri?

4. Seberapa sering kita menasehati orang lain atau keluarga sendiri?

5. Seberapa sering kita melihat dan membantu orang-orang yang membutuhkan dibanding jalan-jalan dan menghabiskan uang?

6. dan lain-lain

Pertanyaannya mengapa?

Jawabannya karena kita terlalu jauh dari Tuhan. Hati adalah pancaran segalanya dalam kehidupan ini. Semakin bersih hati, semakin baik pula kita memilih pilihan diantara pilihan yang akan kita hadapi. Namun semua itu tidak terjadi, karena jiwa kita terlalu jauh dari Tuhan.

Seandainya kita bisa mendekatkan diri kita kepada Tuhan, hati kita akan lebih “connect” dalam kehidupan ini. Kita akan lebih empati dalam melihat berbagai fenomena dalam kehidupan. Namun hal ini sulit terjadi bila hati tidak “connect”. Bahkan, seorang anak pun, tidak bisa merasakan apa yang sedang dialami oleh orang-orang terdekatnya, khususnya Ibu.

Kita kadang hanya terkejut mendapat kabar orang terdekat sakit, beberapa menit kemudian kita telah tertawa kembali bersama orang lain. Kita dapat menikmati makanan enak, tapi tak mampu menghayati bagaimana orangtua di kampung yang sedang banting tulang untuk membiayai pendidikan kita.



Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved