Catatan Free Latihan

Pesan Terakhir : Jika Esok Aku Tak Pulang




Saturday, 24 May 2014

Masa kecil tak akan pernah kembali
Masa kecil hanya tinggal kenangan indah
ketika hidup berputar dan berganti kehidupan
Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan kegelisahan yang amat sangat. Mempercepat detak jantung, menegangkan otot-otot hingga membasahi pipi dengan air mata. Malam terasa begitu lambat bergerak, waktu begitu lama berganti dan jarak terasa jauh untuk di tempuh. Antara kerinduan yang mendarah daging, kesedihan yang menyayat jiwa, hingga penyesalan tak sulit untuk dihapus.

Ibuku, salah satu orang yang telah membuat hidup ini penuh warna. Ingin rasanya merengkuh waktu untuk kembali pada saat semuanya masih berwarna hitam dan putih. Saat duduk di pangkuannya, saat kepala bersandar di bahunya, saat tangan menggenggam erat untuk mencari rasa aman di hati.

Dulu, kekacauan dunia dengan polah penduduknya, kerap memisahkan aku dan ibu. Memisahkan malam, jarak dan waktu. Tak bisa mendengar kata-kata, tak bisa melihat semburat raut wajah, tak dapat mencium aroma keringat. Hanya hitam di atas putih. Bait-bait kata rindu dan sayang untuk si buah hati yang menjadi pelipur kegelisahan dna kegundahan.

Aku tidak pernah menyadari, jika perjalanan semakin larut. Kulit telah berubah warna dengan retakan yang menyisakan kenangan, mata yang tak lagi memberi cahaya sempurna, pendengaran yang tak lagi mengalun merdu. Ketika hitam dan putihnya rambut berganti peran. Ibuku masih seperti dulu. Suaranya, wajahnya dan aroma tubuhnya kerap membangunkan malam panjangku.

Aku takut pada penyakit yang tiba-tiba menghantui perjalanan yang belum kuselesaikan. Ibuku pun takut pada kondisiku. Hingga ia berpesan : "Anakku, sembuhlah engkau. Yakinkan dirimu untuk sembuh. Apakah engkau tidak menyayangi ibumu ini. Apakah engkau akan membiarkan ibumu dalam kesedihan, anakku?”

Dua hari sebelum pesan ini datang, aku tengah berusaha menyembuhkan seekor burung merpati. Burung jantan yang malang. Ia dipaksa berpisah dengan keluarganya, anak dan istrinya dalam jarak yang jauh. Memisahkan malam bersama, memisahkan siang untuk memenuhi kebutuhan makan anak-anaknya.

Aku takut, penyakit yang dideritanya karena beban rindu dan merasa bersalah melepaskan tanggungjawab terhadap keluarganya. Merpati tak mau makan hingga tak mampu menggerakkan tubuhnya. Kedua kakinya pun tka mamu lagi mengangkat tubuhnya.

Seorang teman yang telah memisahkan burung itu dengan keluarganya berkata: “Bagaimana jika kita potong saja, lalu di goreng. Daripada mati bukankah lebih baik kita makan”.

JANGAN! Aku protes. Aku akan merawatnya. Ia tidak sakit seperti sakit yang tengah aku alami saat ini. Ia sakit karena menahan kerinduan. Dan kalianlah yang menyebabkan merpati itu sakit.

Siang malam, aku mencoba menyemangati sang merpati. Sambil menyuapinya dengan butiran beras dan kacang, aku berpesan. “Hai merpati. Makanlah yang banyak agar engkau sehat. Tembolokmu kempis karena tak berisi biji-bijian. Jika engkau makan, engkau akan bisa berdiri dan kembali terbang”. Aku melihat sorot matanya yang tersenyum sambil meletakkan kepalanya di tanganku.

Esok harinya, aku kembali membantunya. Mengurut kedua kakinya hingga meletakkannya di atas ranting dengan beberapa tumbuk daun yang akan menyanggah tubuhnya. Aku mencoba menyemangatinya untuk kembali sehat dengan melihat langsung udara bebas. Di telinganya aku berbisik: “Aku berjanji, jika kamu sehat dan menerima makanan yang aku suapi, aku akan mengantarkanmu kepada anak dan istrimu. Aku janji tapi dengan syarat kamu harus cepat sembuh”.

Subuh tak lagi menyisakan gelap. Saat aku hendak menyuapi merpati dengan beberapa butir kacang. Tanganku kaku saat bersentuh dengan tubuhnya yang kaku. Tanpa detak dan gerak. Aku mencoba membangunkannya dna hendak mengatakan bahwa ia akan segera sembuh. Aku percaya ia akan sembuh, karena kemarin, ia beberapa kali tersenyum kepadaku.

Air pun membasahi bumi. Burung merpati tak lagi bangun dan terbang untuk bertemu anak dan istrinya. Aku begitu sesak dengan penyesalan. Mengapa aku membiarkan ia dipisahkan dari keluarganya. Aku sedih dan merasa kehilangan. Walau hanya dua hari kami bersama, namun aku sudah terlanjur jatuh cinta. Dan merpati pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya.

Ibuku berkata. Dirinya begitu merindukan masa disaat kami masih kecil. Saat kami remaja, duduk kumpul bersama dengan makan nasi goreng ala kadarnya. Lauknya pun hanya kerupuk murahan. Tapi kami bahagia dan gembira.

Sebab itu, ibu berkali-kali memintaku pulang. Membantunya menyembuhkan luka, mengisi harinya yang selalu terpisah oleh waktu. Kekacauan dunia ini telah memisahkan jarak yang jauh darinya.

Tapi aku takut pada penyakit yang tiba-tiba menghantui perjalanan yang belum selesai ini. Ibuku pun takut pada kondisiku. Hingga ia berpesan : “Anakku, sembuhlah engkau. Yakinkan dirimu untuk sembuh. Apakah engkau tidak menyayangi ibumu ini. Apakah engkau akan membiarkan ibumu dalam kesedihan, anakku?”

Aku hanya bisa membalas. “Ibu, aku akan sehat-sehat saja. Yakinlah ibu. Aku ingin hidup seribu tahun lagi agar hidup ini tidak sia-sia”. Lalu. “Aku ingin menyelesaikan semua tanggungjawab yang belum kuselesaikan.”

Tapi pesanku tak sampai. Aku tersadar, ternyata aku tak memiliki rupiah untuk mengantarkan pesan itu.


1 comments:

  1. Hanya do'a yang bisa kita panjatkan :), salam kenal sobat

    ReplyDelete

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved