Catatan Free Latihan

Benarkah Kita Sahabat yang Baik?




Wednesday, 7 May 2014
kehilangan sahabat
Saling Berbagi dan Mengisi Bersama Sahabat

Sahabat, ibarat saudara sedarah, ibarat kekasih, ibarat kakak, adik, ibarat istri, ibarat ayah, ibu dan semuanya menyatu dalam perasaan dan aliran darah.

“Kau adalah Aku, dan, Aku adalah Kau”. Begitulah sahabat merasakan keberadaan sahabat lainnya. Ada chemistry yang selalu hadir dalam pikiran. Saat sedih maupun senang. Semua perasaan hadir untuk saling mengisi.

Bila malam menjelang, menjelang malam, kerap, wajah sahabat hadir membawa senyum, kadangkala juga membawa kesedihan. Semua akan kita lihat, kita dengar bagaimana mereka hidup. Bahkan, walau kita membencinya, tidak secara diam-diam mencari informasi tentangnya, walau pun yang kita cari hanya keburukannya.

Kadangkala, ketika kemarahan dan emosi hadir karena sebuah “ego” kita pun melepaskan tali sahabat. Tak lagi pernah mau mengingat kisah panjang yang pernah terjalin. Melepaskan seluruh ikatan yang pernah terjadi. Dan kita, memaksa perasaan kita oleh “nafsu” amarah.

Kadangkala, ketika pertengkaran hadir, jarang sekali dari kita untuk menyatukan kembali simpul yang putus. Membiarkan semuanya tercerai berai oleh amarah. Padahal, kita tidak bisa berbohong (bahkan tidak boleh), kehadiran sahabat yang pernah ada, justru telah membawa banyak arti dalam kehidupan. Namun kita sering mengelak dan membohongi diri sendiri. Kita sering melupakan sahabat ketika mendapat sahabat lainnya yang lebih baik. Kita sering melupakan zona aman (sahabat) yang lama ketika mendapat zona aman (Comfort Zone) yang baru.

Padahal, “Kau adalah Aku, dan, Aku adalah Kau”. Seburuk apapun yang pernah dilakukan oleh seorang sahabat, tetap saja ia bagian dari hidup kita. Begitu pula sebaliknya. Seburuk apapun diri kita, sebenarnya kita adalah sahabatnya.

Sebanyak apapun kekurangan sahabat kita, tak akan pernah mampu kita tutupi. Begitu pula sebaliknya, sebanyak apapun kekurangan diri kita, tak akan sepenuhnya mampu ditutupi oleh sahabat kita. Karena, semuanya saling mengisi. Setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Dan mereka (sahabat) akan hadir mengisi kekurangan kita, begitu juga sebaliknya.

Pertanyaannya, pernahkah kita benar-benar menjadi sahabat bagi sahabat kita? Pernahkah kita meninggalkan dan menjauhi sahabat yang telah berbuat salah dan menjadi perbincangan orang lain? Pernahkah kita membantu sahabat yang mengalami masalah besar dalam hidupnya? Pernahkah kita mencarinya saat kita senang? Pernahkah kita mengingatnya saat kita makan enak?

Atau kita hanya menjadi sahabat karena kita benar-benar mencari peluang dan kesempatan. Kita menjadi sahabat untuk sebuah kepentingan? Setelah semua yang kita inginkan tercapai, kita secara perlahan meninggalkannya?

Apalagi, banyak pertengkaran antara sahabat terjadi karena masing-masing bertahan dengan ego, tidak ada yang mau mengalah. Keduanya menganggap paling benar, paling berjasa dan paling lainnya. Tak siap, akhirnya sakit hati. Padahal, semua masalah --apakah terhadap seorang sahabat-- dapat dibicarakan. Salah satunya harus mengalah walau terasa pahit. Urusan benar dan salah bukan untuk diperdebatkan, tapi untuk di cari solusi penyelesaian.

Bukankah sahabat itu ibarat saudara sedarah, ibarat kekasih, ibarat kakak, adik, ibarat istri, ibarat ayah, ibu dan semuanya menyatu dalam perasaan dan aliran darah. Tapi mengapa ketika sahabat menghadapi cobaan hidup, kita membiarkannya berjuang seorang diri? 

Seburuk-buruknya seorang sahabat, bukankah kita pernah bersamanya? Seburuk-buruknya kita, bukankah kita pernah bersamanya?

Sahabat adalah jiwa yang mampu meluruhkan rindu. Sahabat adalah obat dalam suka dan duka. Sahabat adalah tangan dan kaki dalam menjalani kehidupan yang indah.

Memang, mencari sahabat sejati itu sulit. Karena, kita harus mengorbankan perasaan kita untuk dirinya. Bahkan, kita juga harus membunuh ego demi mereka. Terasa sakit dan menyiksa. Terasa malu dan memuakkan. Terasa bosan dan menjengahkan.

Padahal, kita tahu, tidak ada manusia yang sempurna. Namun kita selalu berharap memiliki seorang sahabat yang sempurna sedangkan diri kita sendiri pun tidak sempurna. “Kau adalah Aku, dan, Aku adalah Kau”.

Namun yang pasti, kehidupan ini ada sebab akibat. Mengapa sahabat kita, mengapa diri kita berbuat salah, semua karena sebab akibat. Bukan lahir secara spontan dan seketika. Semuanya lahir dari proses sebab akibat.

Apalagi, dalam hidup, ada pertemuan dan perpisahan. Tidak terkecuali sahabat. Kita tidak pernah bisa lama memiliki sahabat karib yang selalu bisa bersama. Perputaran waktu, perbadaan tujuan dan jalan hidup, kerap memisahkan kita dalam jarak yang tak terhingga. Akhirnya, kita pun menemukan sahabat baru. Sedikit demi sedikit, sahabat lama pun terlupakan. Ini proses alamiah dalam kehidupan.

Bahkan, tidak jarang, kita tidak pernah lagi bertemu dengan sahabat kita melainkan kabar yang mengejutkan bahwa sahabat kita telah meninggal dunia.

Tidak lama dan tidak pernah lama. Itulah jalinan persahabatan, sebagaimana keluarga. Kita juga mengikuti proses pertemuan dan perpisahan. Nah, selagi mereka hidup, bukankah kita memiliki waktu untuk memberi yang terbaik dalam hidup kita, hidup mereka yang telah kita anggap sahabat? Sebelum benar-benar datangnya perpisahan?


10 comments:

  1. Persahabatan; Memotong sebahagian kesedihan, melipatgandakan kebahagiaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali teman...

      terimakasih banyak telah menambahkannya...

      Delete
  2. Sahabt itu sekarang, belum tentu besok

    ReplyDelete
  3. Assalamu alaikum.. kata katanya sangat menginspiratif tentang sahabat.. boleh aku copas ?? :)

    ReplyDelete
  4. Assalamu alaikum.. kata katanya sangat menginspiratif tentang sahabat.. boleh aku copas ?? :)

    ReplyDelete
  5. Sahabat juga yang paling berpotensi besar untuk menyakiti kita.................

    ReplyDelete
  6. sahabat, sekarang gw gak percaya ada nya sahabat, sahabat itu lebih menyakitkan

    ReplyDelete
  7. Bahkan lebih sakit ketika kita ditinggal sahabat dripada ditinggal pacar
    Gw alami itu
    Ujian ga konsen
    Kelar dah idup ini
    Teruuus solusinya gmana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Temui dan minta maaf atas kesalahfahaman....

      Delete

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved