Catatan Free Latihan

5 Kolaborasi atau Kerjasama Paling Aneh




Thursday, 22 May 2014
trik melakukan kerjasama
Kerjasama atau kolaborasi adalah hal yang lumrah dilakukan setiap orang. Apalagi, seringkali, banyak pekerjaan akan dapat selesai dan memberi hasil maksimal jika dilakukan dengan gotong royong alias kerjasama. Masalahnya, dalam hidup kita, banyak sekali kolaborasi yang salah. Berikut ini 5 (lima) kolaborasi atau kerjasama yang paling aneh tapi sering kita lakukan.

Nyontek

Dunia nyontek, merupakan sebuah hal yang lumrah terjadi dalam dunia pendidikan. Mulai dari anak sekolah dasar (bahkan anak TK pun sudah mulai pinter nyontek), hingga bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah berumur.

Tidak hanya nyontek saat ujian sekolah bahkan buat PR sekolah, buat laporan juga sudah terbiasa dengan nyontek. Bahkan, banyak mahasiswa, sengaja tidak membuat laporan praktikum dengan alasan: Besok bisa nyontek punya teman saja.

Para pendidik seperti guru, misalnya, juga tidak mau kalah. Buat laporan bulanan yang merupakan kewajiban, sebagian besar dilakukan dengan menyontek punya guru-guru dari sekolah lainnya. Bahkan, ada pula yang sengaja membayar orang lain untuk mengerjakannya.

Dosen tidak ketinggalan. Tidak sedikit dosen yang nyontek skripsi mahasiswanya untuk membuat penelitian agar bisa mendapat uang tambahan.

Herannya, aksi nyontek menyontek dilakukan bersama-sama, saling bekerjasama dengan sesama penyontek. Tidak peduli jika aksi tersebut –sebenarnya-- merugikan diri sendiri. Tapi mereka memilih jalan pintas dengan menyontek daripada belajar.


Pelanggar Lalu Lintas

Ada apa sebenarnya dengan dunia lalu lintas kita. Pemerintah sudah berkali-kali membuat laporan yang menyeramkan setiap akhir tahun. Bahwa, ribuan nyawa melayang sia-sia di jalanan akibat melanggar lalu lintas. Mulai dari tidak mengenakan helm hingga kebut-kebutan.

Sebenarnya masyarakat Indonesia sudah tahu kegunaan helm, tapi tetap bandel dan menganggap remeh. Padahal semua itu untuk keselamatan diri sendiri.

Parahnya, para pelanggar lalu lintas di negeri ini selalu “kompak” saat terjadi razia yang dilakukan aparat kepolisian. Semua pengendari saling lempar kata : “Woi jangan lewat dulu, ada razia. Woi di sana ada polisi, cari jalan lain saja.”

Kalo ketangkap bukannya memperbaiki kesalahan, justru meminta paksa dilepas dengan memberi uang receh kepada aparat. Akhirnya aparat pun memanfaatkan kesempatan tersebut.

Kadang, saat bergerak bersama rombongan, sering terjadi pengendara saling kebut-kebutan. Tidak peduli jalan raya sedang ramai. Parahnya, masyarakat bukannya mengingati tapi sebaliknya, juga ikut menyoraki (menyemangati). Anehnya, jika sudah terjaid kecelakaan, semuanya diam!

Korupsi

Boleh percaya boleh tidak. Korupsi saat ini tidak seperti tahun-tahun 80-an dan tahun 90-an. Sekarang, korupsi benar-benar membingungkan. Tidak hanya pejabat negara di level atas, pejabat level terendahpun, kepala desa atau imam mesjid, juga ikut melakukan tindak korupsi.

Anehnya, di level bawah, kepala desa selalu berkolaborasi dengan sekretaris desa atau kepala pemuda. Kadang juga melibatkan imam mesjid. Semua mereka sudah tahu jika korupsi salah, tapi entah mengapa saat membuat laporan palsu begitu bersemangat. Saling memberi saran dan saling menyemangati satu sama lainnya. Padahal uang yang diperoleh dari korupsi tidak lebih dari 10 juta. Terkadang hanya 4 jutaan.

Mahasiswa bahkan lebih jago. Mahasiswa sudah mampu menyiapkan trik untuk menipu rektor dengan surat miskin palsu yang dibuat sendiri. Surat miskin bahkan dibuat bersama-sama saat duduk di warung kopi. Satu sama lainnya bekerja sesuai porsi. Mulai mencari stempel, merubah stempel, cetak stempel dan lain-lainnya. Tidak ketinggalan, berulang kali mencoba meniru tanda tangan kepala desa ataupun orangtua sendiri.

Korupsi dalam dunia mahasiswa belum termasuk dalam lembaga yang sering sekali tidak jelas penggunaan anggaran yang diberikan rektor. Entah apa kegiatannnya, entah kapan dilaksanakan, eh laporannnya sudah ada. Dan uangnya entah dibawa kemana. Semua pengurus terkadang saling kompak tutup mulut dan membuat strategi alasan jika ditanya mana kegiatannya.

Untuk korupsi partai, pejabat dan lembaga pemerintah, mungkin tidak perlu dibahas lagi. Karena semua sudah jelas adanya. Bosan jika ditulis di sini.

Gosip

Saking mahalnya gosip, akhirnya sebagian besar televisi di muka bumi ini menampilkan gosip. Gosip, semakin di gosok semakin asyik. Demikian ungkapan yang sering kita dengar tentang gosip.

Yang menarik, gosip tidak lagi didominasi oleh kaum perempuan. Laki-laki juga menjadi bigos atau biang gosip belakangan ini. Yang dibicarakan tidak hanya masalah cewek yang diidamkan, tapi juga bergosip kepada semama jenisnya sendiri. Mulai dari kejelekan, kemiskinan, kobodohan, semuanya di bahas beramai-ramai. Mau tidur, sedang makan, bahkan saat mandi pun sempat bergosip.

Paling parah, kalangan cowo jika bergosip bisa dilakukan dengan planing matang dan sangat serius. Bukannya mencari solusi, malah mereka saling memanasi. Lucunya, saat bergosip, sering sekali mencari celah untuk menertawakan orang yang digosipkan.

Tidak peduli, apakah anak muda, anak-anak, orangtua, bahkan kakek-kakek pun juga ikut bergosip saat ngumpul bareng. Jika tidak percaya, sering-seringlah ngumpul (bagi perempuan) dengan kelompok laki-laki. Anda tidak akan percaya, jika gosip sekarang tidak hanya milik emak-emak di lorong kampung, tapi juga kaum bapak-bapak saat ngeronda atau ngopi.

Kriminalitas

Ini yang paling aneh dan paling berbahaya. Coba lihat, berapa banyak kolaborasi saat aksi kriminalitas terjadi. Tidak hanya sesama rekan sejawat, tapi juga sudah mulai biasa dilakukan oleh satu keluarga.

Seorang anak, sering membantu ibunya melakukan aksi kejahatan, demikian sebaliknya. Bahkan, abang dan adik juga berani bekerjasama untuk membunuh orangtuanya sendiri. Bukannya menasehati atau mengingatkan, justru kejahatan ini dilakukan bersama-sama.

Dalam hal kejahatan besar misalnya. Kolaborasi begitu nyata saat akan melakukan aksi pencurian di bank, pom bensin, toko swalayan atau sejenisnya. Semua sudah direncanakan dengan matang. Siapa tukang intip, siapa tukang nguping, siapa tukang “pancing”, siapa tumbal, semuanya direncakan berhari-hari.

Termasuk para penegak hukum seperti aparat kepolisian dan TNI. Sudah menjadi rahasia umum jika aparat selain berkolaborasi dengan penjahat juga berkolaborasi dengan pimpinannya dalam melakukan kejahatan. 

Pertanyaan kita, tidak adakah salah seorang dari mereka yang memiliki perasaan dan mengatakan, semua yang mereka lakukan salah. Karena, manusia memiliki akal pikiran.


Jawabannya, karena hidup kita, lingkungan kita, bahkan diri kita sendiri, tidak lagi memiliki keseimbangan. Semuanya ingin “menguasai” dan menjadi orang yang paling hebat, paling baik, paling sempurna, paling sukses dan paling bahagia. 

4 comments:

  1. Bagus sekali tulisannya. Saya suka. Ini memang bentuk2 kerja sama paling aneh dan anehnya banyak yang suka ya. Ada bentuk lain lagi ... kerja sama petugas dalam kampus dalam meng-upgrade nilai mahasiswa dalam transkripnya :)

    Makasih sudah ke blog saya, di tulisan ttg perempuan penulis dan Aceh itu ya. Saya tinggal di Makassar :)

    Salam dari Makassar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih bu telah singgah ke sini... iya juga ya, kolaborasi merubah nilai di sekolah maupun kampus juga sering bergotong royong hehehe

      Delete
  2. itulah indonesia. tidak hanya dalam hal kebaikan, tapi juga kejahatan dilakukan oleh mereka yang tidak kita sangka sama sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penampilan memang tidak bisa lagi melihat isinya, semua bisa berubah

      Delete

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved