Catatan Free Latihan

Setelah Pemilu Berakhir




Sunday, 20 April 2014
Setelah Pemilu Berakhir

Pemilu, 9 April 2014, baru saja usai. Namun hiruk pikuknya belum akan berakhir. Masih banyak “perjuangan” untuk menjadi pemenang sesungguhnya, yaitu duduk di kursi “aman” parlemen.

Tapi, itu hanya “perjuangan” para calon anggota legislatif dan partainya. Tidak lagi ada sangkut pautnya dengan masyarakat yang sudah rela antri dan memilih sebagai wakil mereka di parlemen.

Masyarakat sudah mafhum, setelah hari pencoblosan itu, mereka sudah tidak terlibat sama sekali. Bahkan, mereka harus kembali kepada rutinitas mereka sebagai rakyat biasa, berjuang “mempertahankan” kehidupannya dengan cara masing-masing.

Mereka juga mafhum, kehidupan mereka setelah hari pencoblosan, tidak bisa lagi memberi “usulan” dan solusi. Karena derajat mereka sudah berbeda dengan para wakil yang mereka pilih. Hal ini bukan hal baru. Banyak kebutuhan khalayak ramai yang mereka “usulkan” kerap membentur tembok dinding. Tak ada yang mendengar dan tidak ada realisasi. Jika pun ada, hanya sebatas formalitas, karena, apa yang mereka “minta” sering sekali hanya bisa digunakan untuk sementara.

Lalu di mana perubahan itu? Setiap pergantian pemimpin di negeri ini, toh tidak ada yang berubah. Jika pun ada perubahan, itu hanya “diperuntukkan” bagi “team” mereka sendiri. Bukan untuk masyarakat umum. Tidak peduli, apakah partai nasional maupun partai berbasis Islam, semuanya sama saja. Semua lebih mementingkan kelompok.

Pemilu, nyaris, sebuah pemaksaan kepentingan. Siapa paling kuat dan siapa paling hebat. Bukan lagi tempat untuk menjaring aspirasi dan mimpi masyarakat umum.

Mau bukti? Lihatlah jumlah keluarga miskin setiap tahunnya. Minimnya lapangan kerja hingga banyaknya tindak kriminalitas, merupakan efek simultan dengan kompleksitas yang tinggi. Tapi para pemimpin dan wakil rakyat yang di pilih masyarakat, kerap tidak memberi solusi. Melainkan saling lempar tangan satu sama lainnya. Dan lagi-lagi, masyarakat hanya bisa menonton dan pasrah kembali pada kehidupannya.

Perubahan partai politik, pergantian pejabat dan pemimpin, nyaris tidak ada yang berubah dalam kehidupan masyarakat. Bukan perubahan frontal (karena ini memang tidak balance), melainkan perubahan yang penuh keadilan. Keadilan antara miskin dan kaya, keadilan antara kebenaran dan kesalahan, keadilan antara kebaikan dan keburukan, kebaikan antara pemimpin dan masyarakat.

Kemana mereka mengadu masalah hidup setelah Pemilu 9 April 2014 lalu? jawabannya sama. Yaitu sama seperti yang dulu. Tidak ada perubahan (balancing life).  

Setelah Pemilu Legislatif, masyarakat harus kembali menjadi “tumbal”. Memilih presiden. Padahal, jika mau jujur, sebagian besar warga negera ini tidak mengenal dengan baik semua calon presiden mereka. Kecuali sepak terjangnya dalam beretorika di media.

Semua calon presiden, masih bermain “aman” dan tetap berada di Comfort zone masing-masing. Yaitu di bawah ‘ketiak’ partai. Jika pun perubahan, hanya perubahan semu yang sellau main “tambal sulam” sana-sini.

Masyarakat tidak dapat protes. Karena, setelah pencoblosan mereka tak ada hak lagi untuk “protes” dan interupsi. Melainkan “harus” terima setiap “keputusan”. Suka tidak suka, harus diterima.

Sebenarnya tidak ada yang salah dalam proses demokrasi di Indonesia. Tapi entah mengapa, dalam perjalanannya selalu saja masyarakat menjadi “tumbal”. Hanya saja, para pemangku negeri ini, para pengambil kebijakan di negeri ini, “kura-kura dalam perahu”. Seolah-olah tidak tahu dan tidak menyadari, padahal mereka tahu.

Seharusnya, para petinggi negeri ini, bersyukur memiliki masyarakat yang tetap ikhlas dan setia membangun dan membela bangsa ini. Seharusnya kebanggaan dan kesetiaan masyarakat Indonesia dalam “mempertahankan” roda kehidupan negeri ini merupakan sebuah anugerah yang luar biasa. Sayangnya, masyarakat selalu saja menjadi bagian yang berbeda ketika pemilu (baik legislatif maupun presiden) telah berakhir. Entah sampai kapan?


Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved