Catatan Free Latihan

Mereka Berada Diantara Serpihan Zaman




Thursday, 24 April 2014

Perempuan hadir di muka bumi bukan hanya sebagai pelengkap hidup dan kehidupan. Perempuan, sama halnya laki-laki, memiliki peran dan tanggungjawab yang sama dalam memberi warna dan keseimbangan dalam kehidupan ini.

Perempuan bukanlah kelompok manusia nomor dua setelah laki-laki. Perempuan bukanlah kelompok marginal diantara hegemoni kaum laki-laki. Tapi, perempuan merupakan simbol kekuatan, bukan hanya bagi kaum laki-laki, melainkan juga dalam kehidupan. Ia, tidak hanya sebagai “Rahim” generasi di muka bumi. Ia juga bukan hanya sebagai “pewarna” dalam sebuah rumah tangga. Melainkan memiliki peran dan tanggungjawab yang sama besar dengan laki-laki.

Perjalanan Bangsa Indonesia, sejak zaman dahulu, juga mengabadikan peran perempuan-perempuan tangguh. Mereka memberi andil dalam kemerdekaan bangsa ini. Walau “terkesan” secuil penggalan sejarah, tetap saja peran perempuan tak bisa disepelekan dan dihilangkan begitu saja.

 Perubahan zaman yang begitu cepat, kehadiran perempuan, kini menjadi warna tersendiri. Kemandirian perempuan, ternyata, telah merubah “sistem” yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Kekuatan mereka yang dibalut dengan “perasaan” kerap memberi jawaban “terbaik” dalam mencari solusi dan menyelesaikan masalah. Walau tetap pada kadar yang tidak menonjol.

Ketika banyak perempuan di Indonesia muncul dalam kemandirian, ternyata masih banyak perempuan-perempuan di negeri ini yang “terpasung” dalam tataran adat dan budaya. Pergerakan mereka masih terikat belenggu. Jangankan untuk memilih jalan hidup, untuk bersuara pun kaum perempuan kerap tak di dengar. Perempuan-perempuan itu kini masih “mencari” pintu agar mampu berdiri seimbang (bukan sama tinggi dan sama rendah dengan kaum laki-laki).

Hal inilah yang masih saya lihat di dataran tinggi Gayo. Daerah yang mencakup Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues (termasuk sebuah daerah yang dinaungi suku Gayo di daerah Lokop, Aceh Timur) di Provinsi Aceh, ini, masih menyisakan kepiluan yang mendalam.

       Banyak perempuan –tidak hanya daerah pedesaan dan pedalaman melainkan juga wilayah perkotaan—yang hidup dibawah bayang-bayang.

Sempat terkejut, melihat keterwakilan perempuan nyaris minim, bukan hanya di dalam pengambil kebijakan di pemerintah khususnya DPRK (Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten), bahkan dalam kelembagaan atau organisasi, perempuan dianggap sebagai pelengkap dan tidak terlalu diperhitungkan.

Sebuah pengalaman di pertengahan Tahun 2012, menggambarkan semua kondisi perempuan Gayo. Saat itu, saya menghadiri jamuan buka puasa bersama di Pendopo Bupati Aceh Tengah. Para tamu yang diundang adalah sebagian kelompok dan lembaga ataupun organisasi kepemudaan yang ada di sana.

Seratusan tamu undangan yang hadir, tidak ada satupun wajah perempuan. Semuanya kaum laki-laki. Saya yakin, perempuan-perempuan yang terlibat dalam organisasi di Aceh Tengah, bukan tidak mau hadir dalam acara jamuan tersebut. Tapi ada semacam hegemoni kaum laki-laki, perempuan tak perlu hadir dalam acara-acara seperti itu.

Kehadiran saya di tanah Gayo tersebut –kebetulan—sedang membangun wadah kreativitas bagi generasi muda untuk bangkit dan percaya bahwa mereka memiliki potensi yang besar dan bermanfaat.

Kebetulan pula, banyak perempuan muda daerah penghasil kopi ini yang terlibat penuh. Bisa dibilang, 80 persen anggota lembaga kreativitas itu di dominasi kaum perempuan. Nah, saat acara jamuan buka puasa tersebut saya mengikutsertakan lima perempuan muda yang energik dan kreatif.

Saya benar-benar melihat keanehan di wajah para undangan lainnya. Kondisi seperti sudah ter-setting, tidak ada “tempat” bagi perempuan dalam acara tersebut. Akhirnya, lima perempuan Gayo itu terpaksa duduk di pojok ruangan, diantara desakan kaum laki-laki, diantara sumpeknya ruangan yang dipenuhi asap rokok. Perempuan-perempuan itu harus “rela” menerima kondisi tanpa bisa protes.

Kultur yang menganggap perempuan adalah kaum kelas dua ini semakin terlihat jelas ketika panitia juga bergeming dan tidak memberi solusi dimana perempuan-perempuan itu harus duduk. Akhirnya mereka terpaksa dicampuradukkan dengan kelompok laki-laki, padahal Aceh syariat Islam.

Saya pribadi mencoba bertanya kepada beberapa generasi di Gayo terkait kondisi perempuan. Sangat mengejutkan saat mendengar jawaban satu jawaban mereka. “Sebenarnya perempuan di Gayo tidak hanya dinomorduakan dalam kehidupan, bahkan mereka bisa dianggap kelompok nomor tiga setelah kaum laki-laki dan kebun”.

Apa yang terjadi di Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues, ini tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan komunitas masyarakat Gayo di pedalaman Aceh Timur. Kehidupan perempuan di sana lebih tragis dan memilukan. Saya pribadi melihat langsung bagaimana hegemoni laki-laki mengikat kaum perempuan dengan “pekerjaan” berat setelah sumur, kasur dan dapur.

Intervensi kaum laki-laki kerap membuat perempuan Gayo menjadi gamang, sebagaimana wadah yang saya bangun bersama perempuan-perempuan muda di sana. Bukan hanya intervensi negatif dari personal, melainkan juga dari lembaga-lembaga tidak terkecuali lembaga yang berbau agama. Mereka kerap “menyalahkan” dan “menyerang” perempuan yang sedang belajar dan mencoba membangun bisnis secara kreatif dan potensi dan kreativitas mereka masing-masing.

Sebagian besar “serangan” mereka yang bertubi-tubi berhasil melumpuhkan usaha mandiri perempuan-perempuan muda yang tengah belajar ini. Padahal, saat itu mereka tengah belajar jurnalistik, photography, desain grafis, blogger, sastra, webdesign, Bahasa Inggris, public speaking, manajemen lembaga, pemasaran-marketing, hingga belajar bisnis pariwisata. Nyaris, semua tercerabut musnah.

Selama setahun setengah berada di tanah Gayo, masih banyak menyisakan pilu yang tak dapat saya hapus. Begitu banyak perempuan muda yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena menikah muda. Kebanyakan mereka menjadi janda muda dan mengurus anak seorang diri sambil bekerja di kebun-kebun kopi milik orang lain.


Perempuan Gayo tidak bisa memilih. Saat ada jalan mandiri, lagi-lagi cobaan tak pernah berhenti menghampiri. Tapi sebagian mereka tetap bertahan walau berat. Mereka tetap bersabar dan percaya, bahwa mereka mampu walau banyak yang tidak peduli.
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved