Catatan Free Latihan

Mengobati “Kaki” Yang Patah




Thursday, 10 April 2014

penyembuhan kaki patah
Mengobati patah kaki
Mengobati kaki yang patah bukanlah perkara mudah. Apalagi jika patah yang terjadi pada tulang merupakan patah praktura. Perlu kerja keras para ahli (dokter maupun tukang urut patah kaki) untuk memperbaiki tulang yang hancur.

Bukan perkara mudah, selain butuh waktu yang lama, juga dibutuhkan dana yang besar untuk mengembalikan kaki normal seperti sediakala.

Dalam hidup, kita juga kerap mengalami kehidupan yang hancur dan penuh “kegelapan”. Seolah-olah, masa depan tlah tertutup dan kita tak pernah lagi dapat menggapainya. Putus asa.

Begitu juga yang dialami manusia saat mengalami patah kaki yang sesungguhnya. Ada rasa sedih, kesal, menyesal dan putus asa. Walau masih banyak harapan yang terbentang luas, namun tetap saja kita merasa khawatir dan was-was akan kelanjutan atau nasib kita di masa mendatang. Karena, kaki merupakan penopang utama aktivitas (walau tak selamanya benar- karena, sebenarnya, kaki adalah penunjang dalam menjalani aktivitas).

Umumnya, kekecewaan ini terjadi karena kita terlalu sombong pada diri sendiri. Jarang sekali mau mendengar “nasehat”, jarang sekali belajar pada kehidupan, ogah belajar pada alam, bahwa hidup saling mengisi satu sama lainnya. Ketika musibah datang, kita pun “kolap”.

Banyak pengalaman menunjukkan kepada kita. Keluarga yang hancur dan bercerai berai, perusahaan yang bangkrut, organisasi atau lembaga yang mati suri, bisnis yang mandek, merupakan “patahan-patahan” kaki dalam kehidupan.

Memang, sangat sulit untuk mengembalikan semuanya kembali seperti semula. Bahkan, saking sakitnya –seperti menarik tulang kaki yang patah dan meluruskannya kembali pada posisi semula— kita akan menangis menjerit-jerit, menahan airmata, dan sakit ini akan terus terjadi hingga berhari-hari.

Setelah menahan sakit yang amat sangat berhari-hari, lagi-lagi kita dihadapkan pada proses penyembuhan. “Uang” menjadi harapan utama. Tapi, untuk mendapatkan uang, lagi-lagi, harus penuh pengorbanan dan airmata, seluruh harta benda terpaksa dijual demi sebuah “kaki”. Demi mengembalikan kehidupan seperti sedia kala. Jika tak ada uang, proses ini bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Setelah sembuh, kita akan dihadapkan pada sebuah kata “kepercayaan”. Yaitu, percaya pada diri sendiri, dan mencari/mengembalikan kepercayaan “teman-teman” yang pernah bersama. Lagi-lagi, proses mencari dan mengembalikan “kepercayaan” ini kerap berakhir dengan “bunuh diri”.

Lihat saja, berapa banyak organisasi yang tak lagi mampu berdiri, berapa banyak perusahaan yang kolap kembali bersinar, berapa banyak keluarga yang telah bercerai dapat kembali bersatu, nyaris sangat sedikit. Dan sangat sedikit.

Sakitnya proses setelah kegagalan (untuk kembali sukses seperti sediakala) sebenarnya lebih sulit dan lebih berat dibanding membangun/menjalani proses sebelum sukses (sebelum ada kegagalan).

Banyak kita lupa menyiapkan “amunisi”. Banyak kita lupa menyiapkan solusi ketika kita mengalami “kecelakaan”. Kita lebih banyak “fokus” pada proses menuju keberhasilan. Dan kita lupa, bahwa kita sebagai manusia, bisa saja lupa dan melakukan kesalahan. Banyak kesalahan kecil dibiarkan dan menganggap remeh, dan akhirnya “meledak”.

Kita sering menganggap sepele pesan orangtua agar jangan mengebut dijalanan saat berkendara. Kita sering menganggap remeh nasehat orangtua agar berhati-hati, kita sering menyepelekan peraturan yang sudah dibuat polisi untuk selalu mengenakan helm, mengenakan sabuk pengaman. Dan kita baru menyadarinya saat kecelakaan telah merenggut “kaki” yang menjadi penopang untuk beraktivitas.

Dan sesungguhnya, Tuhan Itu Maha Adil. Menyadarkan kita dengan "kaki patah", agar kita tetap bersyukur dan belajar untuk tidak menyepelekan proses kehidupan.





Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved