Catatan Free Latihan

Mata Kita Hanya Melihat




Tuesday, 29 April 2014

Bentuk Bola Mata
Zahir Mata hanya melihat
Kehidupan, memang, penuh misteri. Berbagai masalah seolah silih berganti datang menyergap. Bahkan, semua kondisi itu, banyak yang berakhir tidak happy ending. Istilahnya, masa hidup susah, mati pun susah.

Begitulah hidup. Kadang apa yang kita lihat tidak dapat di nalar dengan akal sehat. Kadangkala, logika pikiran kita juga menolak apa yang dilihat oleh mata kita.

Tapi pernahkah kita berfikir, bahwa semua agama ini, mengajarkan kita kebaikan dalam menjalani hidup. Saling berbagi, tolong menolong dan menanamkan sifat empati (kepedulian).

Mengapa setiap agama mengajarkan hal ini? Karena, ada sebuah keyakinan (bukan kepercayaan), bahwa akhir manusia tidak hanya di dunia ini. Melainkan di surga. Jika gagal masuk ke surga, maka nerakalah tempatnya.

Mata manusia secara zahir, umumnya, hanya mampu melihat secara langsung saja (kasat mata). Kita sering melihat “kesusahan” dalam versi mata kita pribadi. Kita lebih merasakan kesedihan saat mata menatap orang-orang yang menangis atau terzalimi.

Begitu juga sebaliknya. Orang lain, sering melihat diri kita selalu dalam masalah dan kesusahan dalam hidup, padahal, kita sendiri merasa “biasa-biasa” saja. Karena memang kehidupan ini sudah kita jalani terus menerus.

Istilahnya: Kita yang menjalani hidup, orang lain yang kesusahan – kita merasa kesusahan jika melihat kehidupan orang lain yang “susah” dan kita juga blingsatan melihat orang lain yang hidup “senang”.

Mengapa semua ini terjadi? Karena kita selalu melihat dan menilai dalam kacamata diri sendiri. Sedangkan kita tidak pernah melihat dan merasakan langsung kehidupan mereka.

Sebagaimana pelangi yang penuh warna warni. Seolah-olah, pelangi yang kita lihat itu benda nyata dan berada di atas gunung. Padahal, saat kita mendekat ke sana, pelangi itu justru tidak dapat kita pegang atau rasakan di telapak tangan kita. Belum lagi sudut pandang dari orang yang berbeda.

Ini menandakan bahwa, dunia ini sudah “teratur” sesuai hukum alam. Ada keseimbanganyang terkadang tidak kita mengerti. Begitu juga kehidupan manusia, semuanya berdiri dalam keseimbangan satu sama lainnya. Hanya mata zahir kita yang membuatnya berbeda.

Kesedihan, kesenangan, kesusahan, kebahagian, merupakan warna warni dalam hidup, sebagaimana pelangi yang sering kita lihat setelah hujan reda. Kita telah membentuk “frame” dalam kacamata kita.

Kemanakah agama yang kita anut selama ini berjalan? Kebanyakan mata kita hanya melihat tanpa mampu bergerak. Padahal, setiap agama kita menganjurkan kebaikan, tolong menolong dan saling ingat mengingatkan. Saling menjaga satu sama lainnya. Kemanakah itu semua? Justru yang terjadi, kita membuat pembatas dengan saudara-saudara kita yang lain. Karena kita selalu melihat indahnya pelangi, sedangkan pelangi tak pernah dapat kita sentuh. Antara kaya dan miskin semakin memiliki jurang pemisah. Antara pejabat dan rakyat semakin tidak bisa berdiri dalam derajat yang sama.

Jawaban, nanti, antara surga dan neraka. Sebagaimana yang kita yakini dalam ajaran agama kita masing-masing. Bisa jadi, orang susah yang selama ini kita lihat justru berada di surga, sedangkan orang senang yang selama ini kita lihat berada di neraka, kelak. dan semua itu bisa saja terjadi.***
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved