Catatan Free Latihan

Kita Hanya Bisa Menilai




Tuesday, 29 April 2014



Pernahkah kita berfikir, sebagian besar ketidakseimbangan dalam hidup ini kitalah yang membentuknya. Kita berandil besar dalam berbagai kehidupan yang sebenarnya tidak kita suka. Kita sering menganggap para penjahat, narapidana dan pelacur adalah sampah-sampah dalam kehidupan. Mereka sampah masyarakat yang harus di basmi dan dihilangkan.

Pernahkah kita berfikir, mengapa mereka melakukan kejahatan, mengapa mereka terpaksa mendekam di penjara, mengapa mereka menjadi pelacur?

Pernahkah kita berfikir, jalan apa yang kita berikan bagi mereka yang telah kita anggap sampah? Solusi apa yang kita berikan agar mereka beralih dari kehidupan yang tidak baik (dalam versi kita) tersebut.

Pernahkah kita melihat cara hidup kita? Kita memaksa nafsu kita untuk menguasai seluruh sendi kehidupan. Mulai dari ekonomi, jabatan hingga kesempatan. Pernahkan kita membagi kesempatan itu bagi mereka yang kita benci?

solusi bagi narapidana
Memberi Solusi Itu Lebih Baik
Salah satunya, kita berlomba-lomba membuka usaha dan berusaha mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya. Selain untuk menjadi orang yang kaya, kita juga ingin menjadi orang yang sukses dan dikenal banyak orang. 

Kita membuka usaha warnet, kita membuka usaha toko kelontong, kita membuka warung kopi kita berjualan pulsa, kita berjualan baju-baju grosir, semuanya kita usahakan untuk dapat dilaksanakan dan meraih keuntungan besar. Berharga semua bisnis itu sukses. Padahal kita sudah menjadi PNS.

Sebuah pengalaman dalam kehidupan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Ketika berdagang, bila tokonya ramai, maka dengan santun ia mengarahkan pembeli ke toko lainnya yang sepi. Karena, pemilik toko yang sepi itu juga membutuhkan uang untuk kehidupan keluarganya.

Tapi ini tidak lagi terjadi dalam kehidupan kita khususnya di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. Semua berlomba-lomba dan tidak pernah peduli atas usaha dan kehidupan orang lain.

Akhirnya, karena tiada pembeli, ia bangkrut dan tidak memiliki pekerjaan tetap. “Bukankah kemiskinan akan mendekatkan pada kekufuran”. Pikiran mulai panik karena keluarga harus dihidupi, mulai kebutuhan pendidikan anak, kebutuhan dapur dan kebutuhan tak terduga lainnya.

Tidak jarang, akhirnya mereka mencari jalan pintas. Mencuri, merampok dan bahkan membunuh. Bagi kaum perempuan, menjadi pelacur merupakan jalan pintas yang paling mudah. Sebagian mereka terpaksa masuk dalam penjara karena di tangkap aparat keamanan.

Ribuan narapidana keluar masuk penjara. Ribuan khutbah, ceramah dan nasehat petinggi-petinggi seluruh agama tidak juga menyelesaikan masalah. Justru kehidupan mereka semakin brutal.

Mengapa semua itu seperti menjadi jalan buntu? Jawabannya, kita tidak pernah memberi solusi sambil “bergandengan tangan”. Tapi kita hanya sering “menasehati” ini salah dan ini benar. Padahal yang mereka butuhkan solusi, bukan “ceramah”.

Penjara akhirnya bukan menjadi tempat “bertobat”. Penjara bukan solusi mengurangi segala kejahatan di muka bumi ini. Bahkan, tidak jarang, penjara justru menjadi tempat paling ampuh untuk saling berbagi pengalaman dalam menjalani kejahatan setelah keluar dari tahanan.

Kita, yang selama ini menilai mereka sebagai manusia jahat, tidak pernah peduli. Kita hanya berfikir untuk diri sendiri. Memperkaya dan memperluas usaha agar terkenal di mata manusia, agar masuk koran, agar mendapatkan penghargaan, agar mendapat “gelar” sukses. Padahal, tanpa sadar, kita telah membuat kehidupan ini tidak seimbang, termasuk bagi diri sendiri.

Kekayaan kerap kita tidak nyaman akan pencurian dan aksi kejahatan lainnya. Kesuksesan kerap menghantui kita dengan kegagalan. Ketakutan kerap menghantui kala anak remaja kita bergaul dengan orang-orang yang kita anggap “jahat”. Ketakutan anak-anak kita menjadi pemakai narkoba, melakukan sex bebas dan lain-lain.

Akhirnya, ketakutan ini menghantui kita. Tapi kita tetap tidak pernah peduli, tidak mau memberi solusi sambil bergandengan tangan. Yang kita berikan hanya “ceramah” yang menyakitkan telinga. Dan kita, selalu menilai dan menilai mereka. Padahal semua itu buah dari tangan diri kita sendiri. ***



Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved