Catatan Free Latihan

Ketika Danau Kami Bocor?




Wednesday, 16 April 2014
Danau Laut Tawar, Takengon
Ketika Danau Kami Bocor

Beberapa anak berdiri, berjejer rapi. Semuanya telanjang bulat. Sambil menunggu aba-aba, sebagian dari mereka berusaha menutup kemaluannya dengan kedua tangan. “Satu…., dua….. tigaaaaa….!!!!”

Satu per satu dari merekapun terjun ke bawah, menghempaskan diri ke dalam air dari ketinggian 15 meter. Sekonyong-konyong, mereka menenggelamkan diri ke dalam air. Tetap bertahan di dalam air dan tidak muncul ke permukaan.

Sebagian orang dewasa yang menyaksikan terlihat khawatir. Karena, mereka melihat jelas bagaimana kondisi dasar air yang berwarna hijau kehitaman dan dipenuhi tumbuhan air. Tapi Setelah beberapa detik berlalu, kekhawatiran itu pun sirna setelah satu persatu kepala bocah-bocah telanjang itu muncul ke permukaan air.  Sorak sorai pun membahana. Bahkan, beberapa masyarakat yang sedang lewat, sengaja berhenti untuk menonton aksi bocah-bocah sekolah dasar itu.

Sampah dan danau yang dangkal
Lima belas menit kemudian, mereka pun menuju ke permukaan. Kulit mereka terlihat mengkerut, dan sebagiannya wajah mereka terlihat pucat karena menahan dingin. Semuanya menggigil kedinginan.

Itulah salah satu momen terindah di tahun 1980-an. “Saya masih ingat betul bagaimana kami menceburkan diri ke dalam air. Walau ada rasa was-was, tapi kami tetap nekat,” ujar Risky, mengenang masa kecil yang pernah dilaluinya di aliran sungai Danau Lut Tawar, Takengon, Aceh Tengah.

Risky mengaku apa yang pernah dialaminya pada masa kecil itu tidak lagi terlihat saat ini. Bukannya karena tidak ada lagi anak kecil yang mandi disana, melainkan kondisi aliran Danau Lut Tawar tidak lagi bersahabat untuk tempat mandi.

Padahal, sebut Risky, tempat itu menjadi tempat bermain yang paling digemari semua anak-anak pada saat itu. “Bukan hanya anak laki-laki, anak perempuan juga sering mandi dan menyeberang aliran sungai beramai-ramai sambil mencari kerang kecil untuk di masak,” ungkap Risky yang kini berusia 38 tahun.


Kenangan indah itu juga diungkapkan Aman Agi (40 tahun). Jembatan utama yang membelah aliran Danau Lut Tawar, saat itu menjadi salah satu sarana rekreasi pada sore hari bagi masyarakat Takengon.

Dulu, kenang Aman Agi, ia bersama teman-temannya dari Balee Atu, Takengon, sering mandi dan meloncat dari jembatan. “Terkadang kami lomba berenang dengan teman-teman dari desa lain. Kadang kami juga memanfaatkan perahu milik orangtua kami untuk bermain pada saat mandi,” kata Aman Agi.

Tapi semua itu hanya menjadi kenangan. Karena, saat ini, kondisi air tidak lagi bersahabat. Di bawah jembatan, air sudah terlihat sangat dangkal bahkan tidak lebih dari batas pinggang orang dewasa. Bahkan tumbuhan air yang dulu memenuhi dasar juga tidak ada. Semuanya menghilang.

“Jadi, bagaimana mungkin mandi dengan cara meloncat dari atas jembatan. Jika nekat mandi dengan cara meloncat dari atas jembatan, bisa patah kaki! Bahkan, 100 meter dari jembatan, dalamnya air tidak lebih dari dengkul orang dewasa. Sekarang anak-anak bisa menyebrang aliran danau dengan jalan kaki,” ujar Risky.

Kondisi aliran Danau Lut Tawar sudah dalam kondisi kritis. Nyaris sepanjang aliran menjadi tempat pembuangan sampah. Masyarakat tidak lagi malu-malu membuang sampah langsung ke dalam sungai. Hal ini menjadi pemandangan umum di sana. Sebagaimana yang saya saksikan langsung saat mengunjungi Takengon, pada pertengahan 2013 lalu.

Padahal, beberapa mahasiswa di Takengon pernah melakukan gotong royong untuk membersihkan sampah yang memenuhi sungai. Tapi tidak lama setelah itu, sampah muncul kembali.

“Sudah bosan! Kami tidak mau lagi membersihkan sampah di pinggir kali. Capek. Padahal sudah kita buat papan pengumuman di pinggir kali agar masyarakat tidak lagi membuang sampai ke sungai, tapi tetap bandel!” kata salah seorang mahasiswa Universitas Gajah Putih, Takengon.

Mencuci di danau
Mahasiswa yang tidak ingin disebutkan namanya itu mengaku sudah berkali-kali melakukan pembersihan. Bukan hanya itu, agar kualitas dan kuantitas air danau tetap terjaga, dirinya bersama beberapa lembaga (Dari Takengon maupun Banda Aceh—red) juga melakukan penanaman pohon pada beberapa titik di gunung.

“Sudah di tanam, tapi masyarakat suka membakar hutan untuk memperluas lahan pertanian. Akhirnya pohon yang ditanam ikut terbakar. Serba salah,” tambah mahasiswa berusia 22 tahun itu.

Saya pribadi sempat melihat langsung aksi bakar hutan yang di lakukan masyarakat di sana. Jika api membesar, pemilik kebun langsung kabur untuk menghindari polisi hutan atau Satpol PP. Esok harinya saat kembali ke kebun, jika bertemu petugas dari pemerintah, dengan enteng petani di sana menjawab; “Bukan kami yang bakar. Karena kemarin kami tidak ke kebun”.

Danau laut tawar, Aceh Tengah
Lalu bagaimana dengan Dinas Kebersihan Aceh Tengah? Beberapa pekerja pengangkut sampah di kota dingin itu ternyata juga pasrah. Miswar, misalnya, pekerja yang selalu mengangkut sampah pada pagi hari ini mengaku bingung.

“Kami sudah rutin mengambil sampah dari masyarakat di setiap jalan. Mereka hanya meletakkannya di pinggir jalan dan pasti akan kami ambil. Sepertinya masyarakat kita malas dan memilih yang lebih praktis dengan membuang ke pinggir sungai,” kata Miswar kepada saya, Senin dua pekan lalu.

Menariknya, Dinas Pariwisata setempat setiap tahunnya melaksanakan banyak kegiatan di Danau Lut Tawar. Seperti lomba renang, lomba perahu dan lomba pacuan kuda di dalam air. Tapi entah mengapa kurang peduli dengan kondisi danau.

Tapi yang menggelikan, beberapa warga yang tinggal di aliran sungai mengaku, berkurangnya debit air bukan karena salah mereka. Sebagian besar warga mengatakan bahwa Danau Lut Tawar sudah bocor. Jadi airnya sudah mengalir kemana-mana.

Encu (45 tahun), misalnya. Dengan serius ia mengatakan air danau sudah bocor hingga ke Aceh Tamiang. “Kami di sini semua sudah tahu jika air danau sudah bocor. Maksudnya bocor ya seperti botol berisi air. Botol yang bocor tentu airnya keluar dan lama kelamaan akan segera habis,” kata Encu sambil menjelaskan kenapa air danau sudah berkurang drastis.

Saat saya bertanya, siapa yang mengatakan danau sudah bocor. Apakah pemerintah? Jawaban yang saya dapat justru sangat mengejutkan. “Ya semua masyarakat di sini yang bilang begitu,” jawab Encu dengan polos. Weleh..weleh..!!***


Comments
0 Comments
 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved