Catatan Free Latihan

Jalan Ini Masih Panjang




Thursday, 24 April 2014

Dingin masih terasa menusuk tulang. Tapi, jari-jarinya terus bergerak menyuci piring-piring kotor di dapur, dinginnya air terasa membekukan kulit. Lalu memasak sarapan pagi untuk adik-adiknya yang masih kecil.

Sambil memasak itu, ia membantu ibunya membuka kios kelontong yang berada di bagian depan rumahnya. Semenjak ayahnya meninggal, kios itulah menjadi penopang utama kehidupan mereka.

Pekerjaan belum selesai. Ia kembali bergerak membuka gudang kecil lalu mencoba menghidupkan sebuah mesin penggiling. Sambil memindahkan biji-biji kopi dari dalam karung ke mesin ia menaruh ember hitam di bawah mesin untuk menampung biji-biji kopi yang telah terkelupas dari kulitnya. Setelah itu barulah di jemur di atas terpal lusuh di halaman rumah.

“Tergantung berapa banyak kopi warga yang di antar kemari. Jika banyak bisa satu jam lebih,” ungkap Syamsari, mahasiswi STAIN Gajah Putih Takengon ini.

Situasi yang penuh dilematis. Pekerjaan rutin itu dilakukan Syamsari sebelum berangkat ke kampus yang jaraknya dari rumahnya di di Desa Wih Pesam, Silih Nara Aceh Tengah. Jarak anatar kampus dan rumahnya sekitar 20 kilometer. Bukan jarak yang dekat, tentunya. Sebuah konsekuensi hidup yang harus tetap dijalani.

Setelah semuanya selesai, akhirnya Syamsari berangkat bersama kedua adiknya yang masih kecil-kecil. Dua adiknya itu belum bersekolah. Kadangkala, membawa adik ke kampus menjadi jalan terbaik daripada meninggalkannya bersama ibu yang sibuk menjaga kios dan menggiling kopi. Dua adiknya yang lain, satu orang berada di pesantren setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), satunya lagi masih kelas III Sekolah Dasar (SD).

Di kampus, dua adik-adiknya itu dibiarkan bermain di depan ruang kuliah. Sesekali ia titipkan kepada temannya yang berbeda jam masuk. Kadangkala, tidak jarang, adik-adiknya itu juga dibawa masuk ke dalam ruang kuliah karena tertidur. Dengan sabar ia memangku adiknya itu sambil mengikuti perkuliahan.

Jika tidak ada tambahan kuliah, ia segera menuju pasar untuk membeli kebutuhan kios yang tidak lengkap. “Bisa berjam-jam. Apalagi bila pergi dengan adik yang banyak sekali permintaan mereka,” ungkap Syamsari suatu hari sambil tersenyum.

Setiap Sabtu sore, Syamsari harus menjemput adiknya yang berada di pesantren. Kebetulan pesantren itu berada di Kabupaten Bener Meriah, sekitar 50 km dari Takengon. Lalu kembali mengantarnya setiap hari Senin. “Tidak jarang sampai ke rumah sudah maghrib. Itu pun harus kebut-kebutan di jalan,” jelasnya.

Sering, mahasiswi ini terpaksa bolak balik Takengon-Bener Meriah jika adiknya bermasalah di pesantren. Ia menjadi “kepala keluarga” untuk menyelesaikan semuanya.

Hari Minggu merupakan hari tersibuk bagi Syamsari. Mulai membersihkan rumah, mencuci setumpuk pakaian, menggiling kopi hingga ke kebun untuk mengutip buah kopi (tergantung musim panen).

Seluruh kesibukan itu, tidaklah menjadi penghalang untuk terus belajar hal-hal baru lainnya. Syamsari tetap dapat berorganisasi, baik organisasi kampus maupun di luar kampus. Bahkan ia juga mengajar mengaji di Mesjid Raya Takengon. Sering menjadi panitia dan mengisi acara dari berbagai kegiatan organisasi. Bahkan, ia juga menjadi penanggungjawab pada beberapa organisasi.

“Jalan kita masih panjang. Semua hal positif harus diambil dan membagi waktu diantara kesemuanya,” ujar mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris ini.

Akhirnya, ia pun bergabung bersama beberapa perempuan Gayo untuk mengikuti pelatihan-pelatihan kreatif yang sangat menguras tenaga dan waktu. Tidak hanya mengikuti pelatihan, bahkan dirinya mendapat tanggungjawab besar dari lembaga pelatihan itu.

Semua tanggungjawab itu dijalaninya dengan sebaik mungkin. Walau dirinya tidak pernah dibayar sepeser pun oleh lembaga itu, tapi ia tetap memberi yang terbaik. Tekad yang bulat dengan memberi waktu yang seimbang inilah menjadi kuncinya.

Walau begitu, Syamsari tetap seperti manusia umumnya. Sedih dan senang adalah warna warni kehidupan. Tanpa kehadiran seorang ayah memberi banyak pelajaran yang dapat di petik. Tidak jarang, cobaan datang silih berganti dan menguras seluruh perasaan dan jiwanya. Tapi ia tetap berusaha tegar dan kuat. “Kehidupan akan selalu ada angin. Ia datang untuk menguji kekuatan kita,” katanya.***





Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved