Catatan Free Latihan

Haruskah Menjadi PNS




Kamis, 17 April 2014

Lapangan Kerja
Haruskah Sarjana Menjadi PNS?
Pegawai Negeri Sipil (PNS) memang menjadi idaman semua orang di negeri ini. Jika tidak menjadi PNS, seolah-olah hidup ini tidak sukses dan belum sukses. Alasan menjadi PNS, karena strata sosial naik, ada jaminan hari tua dan mudah untuk menjalani hidup.

Sebenarnya masih ada satu pertanyaan kita, benarkah jaminan hari tua itu hanya di dapat dari PNS? Bagi yang beragama Islam, tentu ini manjadi kontradiktif. Karena kita lebih yakin dan percaya hidup ini tergantung dengan menjadi PNS.

Karena alasan jaminan hari tua inilah, setiap tahunnya, ribuan sarjana berlomba-lomba untuk menjadi PNS. Rela antri berjam-jam dibawah terik matahari, rela berbasah-basah di bawah guyuran hujan, berdesak-desakan diantara ribuan pelamar lainnya hingga pingsan. Semua untuk menjadi PNS.

Tidak sedikit pula yang bermain dukun, mendatangi makam-makam keramat agar mendapat pertolongan dan berkah. Ada juga yang memanfaatkan jaringan (saudara-teman dan keluarga). Semuanya yakin dan harus menjadi PNS! Tidak peduli apapun alasannya, jika perlu bayar (sogok) 100 juta pun akan dilakukan demi menjadi PNS.

Saat pengumuman, tidak sedikit pula yang stress karena tidak lulus. Bayangkan, bagaimana mungkin pemerintah meluluskan semua sarjana menjadi PNS. Jika semua diterima, Negara bisa kolap.

Tidak lulus, nyaris semuanya sarjana itu lupa dengan statusnya sebagai kaum terpelajar, kaum berpendidikan. Memaki pemerintah dengan sumpah serapah, memaki sarjana lain yang lulus dengan alasan keluarga atau menyogok. Semua sumpah serapah itu selalu saja ada setiap tahunnya. Dimana-mana, sarjana tidak lulus merasa dizalimi panitia.

Bahkan, ada juga yang tetap bersabar mengikuti ujian PNS hingga puluhan tahun. Selama menunggu itu, ia rela menjadi honorer dan tenaga bakti yang tidak dibayar. Jika pun dibayar, yang diterimanya sangat sedikit dan tidak manusiawi. Herannya, walaupun tidak dibayar, para sarjana tetap saja berlomba menjadi tenaga bakti ini. Padahal mereka SARJANA!

Paling parah, untuk menjadi tenaga honorer, tenaga kontrak, atau pun tenaga bakti, mereka kerap melakukan trik tipu menipu, lagi-lagi memanfaatkan keluarga dan jaringan (KKN).

Dan –bisa dibilang bodoh—mereka rela tidak dibayar selama menjadi tenaga “buruh” di kantor pemerintahan tersebut. Agak aneh, memang. Buruh saja di bayar, padahal mereka tidak memiliki titel sarjana. Para buruh yang dianggap kelas marjinal saja masih bisa menghargai dirinya sendiri. Mereka bekerja harus di bayar. Tapi sebaliknya dengan para sarjana.

Bertahun-tahun menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi hanya untuk menjadi tenaga honorer atau tenaga bakti yang tidak di bayar.

Tapi inilah realita yang terjadi. Masyarakat kita terlalu picik dan sempit dalam berpikir. Seolah-olah kehidupan hanya bisa berjalan jika menjadi PNS. Dan kita, selalu menilai dan menyalahkan pemerintah yang tidak memberi lapangan kerja.

Kita lupa, bahwa kita memiliki potensi yang besar dalam setiap diri masing-masing. Memiliki kekuatan yang bisa di dapat dengan cara yang lebih baik. Tapi kita melupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.

Sebenarnya, untuk apa kuliah dan meraih gelar sarjana? Untuk jadi PNS, kah? Apakah untuk menjadi tenaga kontrak yang tidak dibayar? Jika benar demikian, hancurlah peran mahasiswa (saat kuliah dulu) sebagai agent of change.

Jika beranalogi secara kasar, bukankah lebih baik kita menjadi buruh dan tidak usah kuliah? Karena buruh terendah pun di muka bumi ini, pasti akan dibayar dari jerih payahnya (pekerjaan yang dilakukannya).

Sayang memang. Semua ilmu yang dicari saat duduk di bangku kuliah harus tergadai oleh “status” PNS. Semua ilmu yang diperoleh terbuang dengan percuma. Karena, tidak sedikit sarjana yang menjadi PNS, nyaris ilmu yang diperoleh tidak terpakai dan terbuang sia-sia. Sayang sekali masyarakat kita yang berharap pada intelektual yang mampu membawa perubahan dan control social. Semuanya tergadai oleh PNS.

Dimata para sarjana, sepertinya, dunia ini semakin sempit saja. Sempit dalam bergerak, sempit dalam berkarya dan sempit dalam berpikir. Dari ketiga hal itu, sempit berpikir yang paling sering terjadi.

Seandainya para sarjana itu berkumpul dari bidang yang sama (misalkan sarjana bahasa Inggris), padahal mereka bisa membuka lapangan kerja sendiri. Peluangnya justru lebih besar untuk menjadi berkembang. Apalagi, saat ini, untuk wilayah kabupaten, kecamatan, sangat dibutuhkan lembaga-lembaga bahasa Inggris. Tapi ini tidak dipikirkan.

Alasan klasik selalu sama. “tidak ada Modal”. Jawaban konyol. Untuk uang rokok ada, untuk jalan-jalan, uang beli pulsa ada, beli handphone terbaru, ada. Bukankah hidup harus ada pengorbanan?

Jika kerja sendiri tentu saja tidak ada modal, karena itu, seandainya berkelompok dari bidang yang sama bukankah lebih ringan. Ada 10 orang sarjana bahasa Inggris membuka pelatihan bahasa inggris secara continue, bukan hanya menghasilkan uang akan tetapi juga membuka lapangan kerja dan mencerdaskan masyarakat. Jika mampu mengembangkannya, bukan hal yang mustahil untuk menjadi besar.

Begitu juga sarjana-sarjana lainnya. Mengapa harus terpaku pada PNS dan menjadi honorer nekat tanpa digaji. Ini namanya sarjana apa? Apakah seorang intelektual? Agen of Change?

Didunia ini, semua ada keseimbangan. Ada sebab akibat. Keberhasilan akan diraih dengan perjuangan dan pengorbanan (dan juga sabar). Bagaimana mau berhasil jika tidak mau berkorban dan berjuang.

Coba lihat bagaimana orang-orang sukses meraih kejayaan. Semua penuh pengorbanan. Mulai menjual benda kesayangan di rumah, puasa senin kamis untuk menghemat pengeluaran, bahkan tidak jarang dari mereka di usir dari rumah kontrakan karena tak sanggup membayar sewa. Tapi mereka tetap bersabar karena tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan.

Jika tidak mau berkorban, “Ya, Sudahlah", sebagaimana judul lagu dari Bondan Prakoso. Mungkin menjadi saja honorer tanpa dibayar, adalah jalan terbaik. Dan kembali ikut mendaftar PNS pada tahun-tahun selanjutnya. Itupun jika LULUS! Jika tidak yang kembali lagi menjadi “buruh” pemerintah yang tidak dibayar.

Satu hal yang sering kita lupa, umur akan terus bertambah, haruskah terus menerus bergantung menjadi PNS. Manfaatkan semua kemampuan yang ada, gali kemampuan dalam diri. Karena, semua kita ada kemampuan yang luar biasa, hanya saja perlu digali. Sayangnya ini yang tidak pernah dipikirkan.

Saat kuliah, carilah keterampilan ataupun pekerjaan sambilan. Karena itu sebagai Credit Point saat kita lulus dan menjadi sarjana. Dengan kredit poin itulah, kita tidak lagi berpangku tangan pada PNS. Jika lulus Alhamdulillah, jika pun tidak lulus tidak masalah, karena kita sudah ada kemampuan dan pengalaman lain yang bisa memberi kehidupan. Bahkan, bisa lebih baik dan lebih sukses dari sekedar PNS.

Kita bisa mengambil contoh kehidupan para seniman, pencipta lagu, penulis dan lain-lain. Lihatlah bagaimana mereka mendapatkan royalti atas segala potensi mereka. Dan semua itu terus mengalir walaupun mereka telah tiada. Mereka menjadi sosok yang sukses tanpa harus menjadi PNS.

Saat ini, kita tidak bisa lagi terus menerus berharap kepada pemerintah. Apalagi kondisi keuangan yang sedang “morat-marit”. Dan tidak mungkin semua generasi muda (sarjana) di Indonesia harus menjadi PNS. Karena bisa berbahaya, bukan saja terhadap keseimbangan Negara, melainkan juga keseimbangan sosial.

Jika bukan kita, siapa lagi yang akan merubah diri kita, ekonomi kita, ekonomi masyarakat. Ingat, membuka lapangan kerja akan memberi banyak kebaikan. Kita memiliki semua potensi itu. Pertanyaannya, mau tidak? Dan pilihan itu kembali kepada kita.



Comments
4 Comments

4 komentar:

Posting Komentar

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved