Catatan Free Latihan

Menanti Ayah




Sunday, 2 March 2014
Harist menatap jauh. Berharap ada setitik bayangan dari ujung sana. Tangan mungilnya mengenggam erat tangan seorang wanita lusuh yang tetap terlihat tegar dan sabar. Semilir angin laut memainkan kerudung hitamnya.

“Bunda, kapan ayah pulang…”

Tak ada jawaban.

Wanita lusuh yang di panggil bunda hanya diam. Wajahnya terlihat pucat pasi. Tangan kanannya terus-menerus memegang perutnya yang semakin membesar. Sudah sembilan bulan.

“Bunda, kapan ayah pulang…”

Kembali tak ada jawaban.

Seperti kemarin-kemarin. Ketika langkah kaki beranjak, tanpa ada kata yang tertinggal ditempat itu, kecuali sebuah ucapan, “Bunda, kapan ayah pulang…”.

****
Matahari telah tenggelam. Kepulan asap memenuhi ruangan tiga kali empat meter persegi tersebut. Bara api sisa pembakaran masih terlihat menyala. Di sudut ruangan, Haris duduk bersila, memandangi sang bunda yang tengah melaksanakan shalat maghrib. Perutnya kembali bersuara.

Tangan mungilnya mencoba menahan perutnya dengan kedua tangan. Ia mencoba merebahkan diri sambil melipat tubuh kurusnya. Mencoba menahan rasa lapar. Namun tetap saja rasa lapar itu tak kunjung menghilang.

Sesekali ia menghapus matanya yang perih karena asap hitam yang memenuhi ruangan tersebut.

Ia kembali duduk bersila. Menatapi setiap gerakan sang bunda sambil berharap segera menyelesaikan shalatnya.

“Assalamualaikum.. waramatullahiwabarakatuh…..”

Setelah melepas mukena, sang bunda menatap Harist sambil melempar senyum.

Haris ikut tersenyum. Rona kegembiraan terpancar dimatanya. sambil menahan perutnya, Haris menggapai tangan sang bunda, menciumnya.

“Mari kita makan…,” kata sang bunda.

Sang bunda pun bergegas mendekati periuk nasi disamping tempatnya shalat tadi. Sebuah piring usang dan sebuah sendok, dua buah mangkuk palstik telah disedikan Harist semenjak tadi. Bunda mengambil dua sendok nasi bubur.

“Hari ini kita makan nasi bubur lagi ya, sayang,” kata bunda menatap Harist.
Harist hanya mengangguk. Ia tak peduli lagi apa yang harus dimakan, karena perutnya sudah terlalu lama menahan lapar.

Dengan gesit Harist menghabiskan nasi bubur dipiringnya. Bunda tersenyum. Sambil berpura-pura mengambil nasi bubur didalam periuk, padahal saat itu, dibalik jilbab besarnya, bunda telah menumpahkan separuh isi piringnya kedalam periuk. Harist tak melihatnya.

Lalu menaruhkan nasi bubur dari dalam periuk kedalam piring Harist.

Lagi-lagi Harist menyantapnya dengan lahap. Habis. Bunda tersenyum. “Masih lapar, nak,”Harist diam.

Serba salah, ingin rasanya menyerahkan nasi dipiringnya kepada Harist.  Namun, janin didalam perutnya juga membutuhkan makanan. Akhirnya, bunda menyuapi Harist bergantian dirinya.
***
Sayup-sayup suara takbir kemenangan mulai menggema dari mushala di ujung desa. Takbir kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Suara pukulan beduk bertalu-talu dimainkan oleh warga yang berkumpul di mushalla.

Haris hanya berani melihat dari luar halaman. Tidak ada keberanian dan niatnya untuk melangkah lebih dekat lagi, menyaksikan dan melantunkan syair kemenangan. Suara perutnya terus berbunyi. Rasa lapar sedari kemarin masih belum hilang.

Rasa cemburu sempat timbul dibenaknya, melihat beberapa anak seusianya berlari-lari kegirangan. Sambil bertakbir, anak-anak itu terlihat bercahaya diantara gemerlapnya mushalla yang juga terlihat terang menderang dihiasi berbagai lampu warna-warni.

Harist mencoba meraba perutnya. Terasa sakit. Disaat itulah, tiba-tiba ia tersadar, kaki mungil tak beralas sandal itu pun berlari sekencang-kencangnya meninggalkan mushalla. Meninggalkan keramaian dan kemeriahan malam kemenangan.

Dengan napas terengah-tengah, ia terus berlari.

Lima menit berlalu, Harist pun sampai digubuknya. Namun ia hanya terpaku saat pintu gubuk itu terbuka. Bertemankan sebuah lampu usang, Harist diam, menatap bunda yang tidur di diatas dipan berlapis tikar tua sambil meringis kesakitan.

Ia tidak tahu apa yang terjadi, mengapa Bunda menjerit dan menangis sambil memegang perutnya. Harist hanya membisu melihat pemandangan yang menurutnya sangat aneh. Kakinya tak dapat melangkah kecuali menatap sang bunda.

Rasa takut tiba-tiba menghantuinya. Harist segera melangkah dan merangkul tubuh sang bunda sambil menjerit.

“Bunda………!!!!!!!!”
“Bunda………!!!!!!!!”

Darah membasahi tangan mungilnya.
“Bunda….!!!!”
“Bunda….!!!”

***
Pagi nan cerah. Beberapa anak kecil seusianya terlihat berlari-lari sambil mengenakan pakaian baru. Seluruh umat muslim tengah merayakan hari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh.

Semua orang tengah bersuka cita menikmati makanan yang lezat-lezat, pakaian baru dan saling bersilaturahmi.

Namun Harist hanya berdiri mematung, menatap jauh samudra dihadapannya. Tak ada lagi wanita lusuh yang setia menemaninya, seperti kemarin-kemarin. Ia hanya menatap samudera dihadapannya, berharap ada setitik bayangan dari ujung sana.

Air matanya terjatuh.“Kapan Ayah Pulang”.
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved