Catatan Free Latihan

Menahan Keinginan (Bendungan Nafsu)




Monday, 10 March 2014

menahan keinginan dan nafsu
Bendungan  untuk Menahan Nafsu
Siapa yang tidak memiliki keinginan dan hasrat? Setiap manusia memiliki hal ini. Dalam hidup, keinginan menjadi penyeimbang balancing power) terhadap diri dan lingkungan.

Tapi, perubahan dunia --yang begitu cepat-- saat ini, telah memancing diri kita untuk mengakali nafsu dan keinginan yang berlebih. Padahal, keinginan itu sebagian besar tidak kita butuhkan, tapi, karena pandangan mata, kita pun memaksa memenuhi semua hasrat.

Jika kita berjalan-jalan ke mall, gemerlapnya barang yang di pajang, membuat kita “gatal tangan” untuk membeli. Padahal barang yang kita lihat tidak terlalu penting. Bahkan, tidak jarang keuangan kita tidak cukup banyak. Tapi, karena nafsu telah menjerat pikiran, akhirnya kita berusaha mati-matian untuk mendapatkannya.

Begitu pula terhadap barang-barang elektronik yang terus membanjiri pandangan kita. Handphone, misalnya. Setiap bulan berbagai jenis tipe baru dari berbagai vendor. Nyaris, demi gengsi, kita pun berlomba-lomba mendapatkannya. Padahal, kita menyadari, handphone mewah itu tidak terlalu memberi manfaat bagi kita kecuali untuk bermain game, sms dan telpon (bisa didapat pada handphone biasa yang murah). 

Di Indonesia, hanya sekesian persen saja pemilik handphone mewah yang benar-benar menggunakannya sesuai kebutuhan. Seperti kebutuhan untuk memudahkan kerja kantor yang mobile (wartawan, misalnya), memudahkan komunikasi antar relasa melalui conference, post message outlook, dan sebagainya. Lainnya? Tak lebih dari style.

Hidup butuh keseimbangan (demi keberlanjutan). Karena itu, Tuhan meminta kita untuk bersabar dan menahan nafsu kita.  

Sebesar apapun hasrat, sebesar apapun kemampuan yang dimiliki, kita tetap harus menahannya, karena kehidupan selalu berputar, kadang di atas dan kadang di bawah.

Lihatnya sungai-sungai besar di muka bumi. Agar air tetap mengalir dan bermanfaat, maka dibuatlah bendungan agar tidak menjadi air bah (ketika hujan besar datang terus menerus dari hulu). Jika tidak dibendung, air bah bisa memberi mudharat yang besar. Bukan hanya kerugian materi, melainkan juga nyawa. Oleh sebab itu, sungai (nafsu) besar perlu dibuat bendungan. 

Lihatlah apa yang terjadi setelah air bah meluluhlantakkan daratan yang dilaluinya. Bukan hanya lahan pertanian (sumber makan) yang hancur, melainkan juga mata air (sumber hidup) yang menjadi hilang. Air bah tidak hanya merusak permukaan tanah, melainkan juga pori-pori di dalam tanah, sehingga merusak mata air. Dan semua itu belum termasuk nyawa yang melayang sia-sia.

Membendung keinginan (nafsu) berlebihan lebih baik dari pada memaksa semua keinginan walau kita sediri tak siap dengan sebab akibatnya. Semakin mampu kita menahan nafsu, semakin besar pula manfaatnya.

Ibarat bendungan pada sungai, air akan tetap ada walau pun saat musim kemarau datang. Air tersedia untuk kebutuhan lahan pertanian dan untuk kebutuhan manusia. 

Membiarkan nafsu berjalan seperti air bah, yang kita dapatkan hanya kepuasan sesaat, selanjutnya kita harus menderita karena banyak “simpanan” yang ludes. 

Bukankah sedikit (optimal) itu lebih baik dari pada banyak (maksimal=mubazir). Sedikit namun selalu ada dan tersedia dalam jangka waktu yang lama sepanjang tahun. 

And that choice is your. Pilihan itu ada pada diri kita masing-masing.



Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved