Catatan Free Latihan

Ijazah dan Skill




Thursday, 6 March 2014
Memperkuat skill dan kemampuan
Ijazah dan Skill
Di Indonesia, diakui, untuk mencari lapangan kerja sangatlah terasa sulit. Apalagi jika tidak memiliki ijazah, jangan harap bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah walau memiliki bejibun keterampilan.

Semua ini tidak lain karena negera kita masih menggunakan sistem formatif dalam menerima tanaga kerja. Untuk menjadi dosen, standar minimal harus Strata Dua (S2), dan pekerjaan pegawia negeri sipil (PNS) hingga tenaga pembantu pun harus memiliki ijazah yang kadang harus di “sandera” sang majikan. Walau hanya ijazah setingkat SLTP.

Banyak anak muda mengeluh karena tidak diterima di perusahaan, padahal dirinya memiliki skill dan pengalaman yang mumpuni. Hanya karena tidak memiliki ijazah, akhirnya ia tidak bisa masuk ke perusahaan tersebut. Jangankan masuk, untuk mendaftar saja sudah ditolak. 

Pertanyaan kita tentu hampir sama. Mengapa perusahaan di Indonesia lebih mengutamakan Ijazah dibanding skill(khususnya untuk bidang-bidang kreatif).

Jawabannya:
1. Perusahaan (berbeda-beda antara perusahaan satu dengan lainnya)tentu ingin membangun brand yang kuat dengan standarisasi yang tinggi. Ijazah walau menjadi nomor dua, namun menjadi standar kualitas yang harus diberikan kepada konsumen. 

Ada standarisasi. contohnya helm. Alat penutup kepala saja memiliki standar, nah, apalagi ijazah. 

2. Skill belum menjamin bahwa seseorang itu memiliki pengetahuan  yang luas tentang dunia kerjanya. Skill tidak mejamin seseorang mampu bekerja dalam team, skill tidak menjamin bahwa ia memiliki relasi atau jaringan bisnis awal. 

Zaman sekarang, dalam bidang usaha, relasi dan jaringan bisnis merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari dunia kerja. Apalagi jika skill didapat secara otodidak, tentu sangat diragukan pengetahuan yang ia miliki. 

Mau bukti?

Jika ada seseorang mengaku memiliki kemampuan dan mahir membuat website, tapi dia tidak mengerti sistem data dalam website. Tentu hal ini menjadi aneh.

Masalahnya, dalam dunia pembuatan website, perusahaan membutuhkan tenaga yang benar-benar memiliki Abilities (kemampuan) dan Knowledge (pengetahuan) yang luas terhadap sebuah website. 

Dalam mekanisme pembuatan website, seseorang dikatakan mampu jika memiliki pengatahuan dalam HTML, CSS, SQL, PhpAdmin, dan lain-lain, termasuk kemampuan membangun media sosial.

Bagaimana ilmu-ilmu diatas dapat diperoleh? tentu melalui pendidikan. Pendidikan seperti kursus intensif enam hingga dua tahun, dan pastinya, ya, kuliah di bidang itu. 

Dan perusahaan tidak mau rugi menerima tenaga kerja hanya memahami CSS atau HTML saja dalam bidang website. Tapi yang dibutuhkan benar-benar tenaga profesional. 

Jadi, jangan salahkan perusahaan jika tidak menerima kita sebagai pekerjanya jika tidak memiliki ijazah. Bagaimanapun, perusahaan tetap melihat profit dan menjaga standar mutu yang akan dijual. 

Solusinya:

Jika memiliki skill, perkuat lagi skill tersebut melalui pendidikan formal. Karena, melalui pendidikan formal tidak hanya memperoleh ijazah, melainkan juga mendapatkan ilmu bagaimana berorganisasi, memanajemen diri, bekerja bersama orang banyak (team work). 

Setelah menempuh pendidikan dan memperoleh ijazah. Coba berfikir ulang. Ketika Anda telah memiliki abilities, knowledge, etc, lalu memiliki pengalaman organisasi, memiliki jaringan, apakah anda masih ingin menjadi tenaga kerja? 

Lebih baik mana, membuka lapangan kerja sendiri atau bekerja dengan orang lain? semua itu ada di tangan anda? Karena setiap manusia memiliki kekuatan dan potensi yang berbeda-beda, termasuk dalam hal berpikir dan bekerja.




1 comments:

  1. Setuju.. Dimana-mana ijasah..
    ijasah sma stm d3 sampai s1 gaji sama UMR ^___^

    gmn dengan anda

    ReplyDelete

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved