Catatan Free Latihan

Korupsi Akut Dunia Mahasiswa




Tuesday, 18 February 2014
Mahasiswa, sebuah identitas yang selalu menjadi perhatian. Label Intelektual, profesionalisme, solidaritas dan tentunya pendidikan. Tidak lupa pula label “tukang demo” juga melekat ditubuh mahasiswa kita.

Setiap permasalahan timbul, baik di level lokal maupun nasional, kekuatan mahasiswa tidak bisa dipandang remeh. Satu kordinasi, mereka akan melakukan demonstrasi. Aksi-aksi ini merupakan bentuk solidaritas dan tentunya mereka ingin menggambarkan bahwa mereka adalah mahasiswa yang kritis dan peduli.

Mahasiswa memang pintar memanfaatkan situasi. Tapi, saking pintarnya, mereka juga sudah mulai terjun dalam dunia politik. Mula-mula, dunia politik kecil-kecilan di kampus, tapi, seiring perjalanan waktu, mereka juga terjun dalam dunia politik yang sesungguhnya.

Dunia politik sesungguhnya disini adalah, dihadapan umum mereka meneriakkan kemarahan atas ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat atau pun yang lainnya. Akan tetapi, disinilah letak permasalahan itu, mereka sudah mulai memainkan peran “memainkan” para pejabat dengan janji-janji.

Pemilihan presiden mahasiswa, pemilihan ketua paguyuban, pemilihan ketua pemuda kabupaten, mahasiswa kita bukan hanya berjuang untuk membela kebenaran dan mempertahankan idealisme. Tapi mereka sudah mulai melakukan “deal-deal” kepada para pimpinan daerah dan pejabat-pejabat lainnya.

Tidak sedikit pula mahasiswa yang suka “berkoar-koar” itu melakukan “kerjasama” sepihak dengan pejabat ataupun pimpinan daerah yang lainnya tanpa diketahui oleh seluruh anggotanya.

Sebagai bukti, coba sekali-kali bertanya kepada mahasiswa-mahasiswa yang menjadi ketua dari salah satu yang saya sebutkan diatas. Berapa mereka menerima dana dari pejabat untuk melanggengkan jalannya menjadi ketua. Dari mana dana itu dan apakah ada pertanggungjawabannya. Berani jamin 100 persen, semua dana itu tidak tercatat dan tidak ada pertanggungjawabannya.

Mengapa? Karena memang itu bentuk dukungan pejabat untuk meluruskan mereka menaiki sebuah jabatan dimasa depan. Mahasiswa dianggap “lahan basah” untuk meluruskan jalan itu. Maka, saat mahasiswa datang dan meminta dukungan, para pejabat pun dengan sukarela memberi dukungan, dan tentunya dukungan dana.

Inilah bagian kecil dari korupsi yang sudah dimainkan mahasiswa.

Tapi jangan salah, masih banyak daftar korupsi yang dilakukan oleh mahasiswa secara personal maupun berjamaah.

Setiap tahunnya, ribuan beasiswa dikucurkan oleh universitas dan pemerintah daerah. Dengan kemampuannya sebagai intelektual, mahasiswa ini pun mulai mengejar beasiswa tersebut. Menariknya, berbagai cara dilakukan mahasiswa untuk mendapatkan dana beasiswa tersebut. Mulai memalsukan surat, tanda tangan bahkan memalsukan pendapatan orang tua.

Tidak puas, ketika beasiswa sudah keluar dan ada pengumuman beasiswa lainnya, mahasiswa-mahasiswa inipun secara licik berusaha memperoleh beasiswa tersebut.

Mereka berusaha mendapatkan beasiswa dengan menggadaikan ekonomi keluarga.

“Saya kurang mampu pak, ini bukti penghasilan orang tua saya,” kata salah seorang mahasiswa. (padahal data tersebut sudah dimanipulasi). Yang lebih aneh, mahasiswa itu memiliki kendaraan roda dua. Bagaimana mungkin mahasiswa itu miskin.

Ada juga mahasiswa yang memalsukan tanda tangan orang tua, sampai memanfaatkan situasi kenalan di kampus. Siapa memiliki relasi dialah pemenangnya.

Ketika beasiswa keluar, kemanakah dana itu dibawa? Sepenuhnya untuk pendidikan? Adakah mereka menggunakannya untuk membeli buku, menambah kemampuan bahasa asings ecara intensif? Tanya saja kepada mahasiswa.

Sebaliknya, dana-dana beasiswa itu digunakan untuk membeli handphone baru, baju baru, sepatu baru, membeli laptop sebagai gengsi untuk duduk di warung kopi sambil bermain chatting, facebook-an, main poker semalam suntuk dan sejenisnya. Termasuk berjalan-jalan bersama sang pacar, berboncengan, makan-makan dan membeli hadiah manis untuk sang pacar.

Dan pastinya lagi, saat beasiswa keluar, akan ada pesta kecil-kecilan. Mengajak teman-teman satu genk makan.

Lalu bagaimana dengan lembaga-lembaga kampus?

Coba sekali-kali dating dan lihat pembukuan pengeluaran mereka. “berantakan” dan penuh “lubang”.

Terlalu banyak kegiatan mahasiswa untuk sosial yang mengahbiskan dana ratusan juga rupiah. Tapi hasilnya nihil. Justru mahasiswa, dengan kegiatan tersebut mencoba mencari nama untuk menjadi terkenal dan masuk koran. Jika wajah dan kegiatannnya masuk Koran, seolah-olah sudah sangat hebat dan kegiatannya sukses.

Padahal dana yang dihabiskan itu justru lebih banyak digunakan untuk operasional dari pada digunakan kepada pengabdian itu sendiri.

Coba lihat hasil laporan keuangan mahasiswa untuk sebuah kegiatan. Dana pulsa, transportasi, konsumsi (paling besar nih..), nyaris habis tersedot disini. Sedangkan untuk masyarakat, hanya omong kosong dan obral janji yang diberikan.

Jika ada uang sisa dari kegiatan, akan digunakan untuk pembubaran panitia yang diselingi dengan makan-makan. Mereka lebih memikirkan hal ini dibandingkan sisa dana diberikan untuk masyarakat yang mereka “jual” di proposal.

Tidak terkontrol dan tidak ada yang mengontrol. Inilah yang terjadi.

Jadi janganlah mengherankan, setiap perhelatan pemilihan ketua, apakah ketua mahasiswa, ketua lembaga, ketua paguyuban dan lain-lain, sering sekali terjadi bentrok argument bahkan dipublis di sosial media. Mereka memamerkan “keributan” atas nama “perubahan”. Tidak sedikit pula yang berakhir dengan adu jotos dan korban pun berjatuhan. Mereka siap bentrok apapun yang terjadi dengan membawa isu “perubahan”.

Padahal, diujung-ujungnya, setiap lembaga itu ada perputaran uang luar biasa besar untuk “diolah”. Istilahnya, ada kecemburuan, “mengapa mereka-mereka saja yang mengelola dana-dana besar itu”.

Lumayan jika memang murni karena uang di lembaga tersebut, tapi tidak sedikit pula aksi mahasiswa ini berani adu jotos karena sudah mendapat “janji manis” dari pejabat. Akan ada dana besar jika menang dan membantu pejabat itu naik untuk ikut pilkada atau lainnya.

Bahkan, dalam aksi-aksi itu, mahasiswa ini juga “nekat” menerima dana yang dikucurkan pejabat (Parahnya, bukan dari satu pejabat tapi ada pula yang menerima dari 2-5 pejabat) dengan deal-deal politik.

Akhirnya mahasiswa telah menggali lubang kuburannya sendiri. Karena, bagaimanapun, mereka harus “mengembalikan” jasa pejabat-pejabat itu. Mahasiswa benar-benar berada di bawah ketiak pejabat dan pimpinan daerah. Luar biasa!

Penulis: Martha Andival
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved