Catatan Free Latihan

Hapuslah Airmata Mereka




Tuesday, 18 February 2014
Hapuslah airmata mereka
Hapuslah airmata mereka.  Berbagi, kata yang sangat sederhana dan sebuah kata yang bisa jadi, hanya kata yang tidak berarti dan biasa-biasa saja.
Hidup adalah anugerah. Dalam tubuh kita pun banyak anugerah yang Tuhan berikan. Bukan pada wajah yang cantik, ganteng ataupun pada bentuk tubuh yang indah. Akan tetapi ada sebuah anugerah yang terkadang kita tidak pernah memperhatikannya. Yaitu keseimbangan.
Bukan sebuah keseimbangan dalam artifisial umum, ada tawa, ada tangis, ada sakit ataupun sehat. Melainkan sebuah keseimbangan yang akan menjaga keseluruhan hidup. Keseimbangan jiwa, hati, perasaan dan tentunya… bagaimana dengan sebuah keseimbangan ini, kita benar-benar merasakan bagaimana “nikmatnya iman”.
Saat wajah bisa dibeli untuk terlihat cantik dan tampan, saat tubuh dapat dibeli dengan bentuk yang proposional (dalam pandangan sekarang), saat harta dapat dibeli dengan berbagai cara, saat jabatan dapat diraih dengan berbagai usaha, namun, akankah kita bisa merasakan nikmatnya iman, merasakan bagaimana lapangnya hati sebagaimana luasnya samudera.
Cobalah sekali waktu, Jika pun tidak sanggup, karena berbagai alasan, cobalah sekali waktu datang ke panti asuhan, tataplah wajah mereka, rasakan, dan pikirkan, seandainya adik kandung kita, anak kandung kita berada dalam posisi mereka.
Jika pun tidak mampu, sesekali waktu, disaat kita ke pasar, lihatlah, bagaimana kehidupan mereka, bagaimana anak-anak harus banting tulang bekerja. Mulai dari mengumpulkan sampah, mengemis, hingga, tidak sedikit dari mereka yang bekerja sebagai pencopet.
Belum lagi anak-anak cacat yang nyaris tidak memperoleh perhatian, baik keluarga maupun lingkungannya.
Belum lagi anak-anak yang harus menghabiskan masa kecilnya, masa bermainnya di penjara, mereka harus menjadi manusia “dewasa” untuk bisa bertahan hidup.
Anak-anak yang berjuang, tak peduli siang dan malam, tak peduli teriknya matahari, tak peduli derasnya hujan dari langit, mereka akan tetap terus berjalan dengan langkah kaki yang gontai, dengan perut yang kosong, dengan rasa takut yang tak dapat terucap, dengan rasa sakit yang tak terkira, dengan air mata yang tak tahu sudah berapa banyak terjatuh.
Mereka tetap bersabar dengan kemampuan mereka sebagai manusia cilik, dengan kaki-kaki mungil, jemari tangan yang tak lagi halus.
Terkadang, mata mereka terbentur dengan anak-anak lainnya. Rasa senang, sedih, bingung, malu, berharap, semuanya menjadi satu dan menjadi batu dalam hati.
Sedangkan kita, duduk manis, makanan cukup dan bahkan berlimpah, tabungan di berbagai bank, rumah dengan berbagai fasilitas, tidur dikasur empuk. Dan kita masih bisa bermimpi indah akan mimpi kita.
Sedangkan mereka, kaki-kaki mungil itu, mimpi adalah sebuah mimpi. Mimpi merupakan mimpi. Dan semua hidup ibarat mimpi.
Kita terbuai dengan mimpi indah kita, dan anak-anak kecil tak berayah, tak beribu itu, juga terbuai dengan mimpi mereka. Mimpi antara langit dan bumi.
Kita masih bisa tersenyum, tertawa. Tapi sadarkah kita, senyum dan tawa kita adalah senyum kematian bagi mereka.
Berilah keseimbangan itu pada mereka, pada anak-anak yang merindukan belaian hangat kasih sayang, belaian cinta dan belaian mimpi untuk masa depannya.
Saat kita sulit, kita masih mampu mengadu kepada orang tua, kepada pimpinan dan kepada teman atau orang-orang besar yang ada disekeliling kita. Sedangkan mereka, mereka hanya bisa mengadu kepada takdir, karena tidak sedikit dari mereka, keyakinan kepada TUHAN mulai tergadai oleh keadaan dan keangkuhan manusia disekitar mereka.
Detik berganti, hari berlalu, tahun pun berubah. Waktu tanpa terasa terus berputar silih berganti. Sedangkan kita, masih duduk dalam posisi yang sama. Akankah waktu yang tersisa ini mampu mengetuk hati kita?
Satu hal yang pasti, mereka tidak selalu membutuhkan dana tunai dari kita, namun yang mereka butuhkan adalah kasih sayang, perhatian dan cinta.
Berilah secuil cinta di hati kita untuk mereka…. untuk mereka yang selalu merindukan belaian kasih sayang, merindukan canda tawa, merindukan pelukan sang bunda, merindukan dekapan hangat sang ayah……

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 

Community Blog

Serba Gratis | Pelatihan Menulis | Wallpaper | Tutorial | Link | Catatan

Copyright © 2010-2014 • Free Latihan • All rights reserved